
WASHINGTON - Satelit Jason 2 sukses meninggalkan Bumi pada pekan kemarin dengan menumpang roket Delta 2 dari Vandenberg Air Force Base di California.
Saat ini satelit tersebut dilaporkan telah berada di orbit bumi dan siap menjalankan tugas. Seperti pendahulunya, Jason 1, satelit buatan badan luar angkasa Amerika Serikat (AS) dan Prancis (NASA dan CNES) itu didedikasikan untuk mengaji perubahan cuaca dan iklim dari orbit (Noaa dan Eumetsat).
NASA menjelaskan, satelit seharga USD433 juta itu akan melakukan misi bersama dengan satelit Jason 1 yang telah lama berada di orbit. Jason 1 diluncurkan pada 2001 dan sejak itu satelit ini memantau perubahan permukaan air laut di bumi. Jason 1 dan Jason 2 akan berfungsi optimal selama lima tahun. Dibandingkan Jason 2, Jason 1 memiliki beberapa kekurangan, di antaranya kurang tepat dalam memprediksi perubahan suhu air laut.
Kendati demikian, Jason 1 masih dapat mencatat data data penting yang sengaja tidak dilakukan Jason 2. "Secara bersamaan, Jason 2 dan Jason 1 akan mengumpulkan lebih banyak data yang dibutuhkan para pakar cuaca," tulis NASA. Direktur Operasi Eumetsat Mikael Rattenborg pun mengatakan bahwa Jason 2 merupakan satelit yang diharapkan dapat memprediksi perubahan cuaca dengan lebih tepat.
Dengan demikian, ujar Rattenborg, warga bumi dapat lebih memahami iklim sehingga tidak menjadi korban keganasan alam. Seperti diketahui, akibat pemanasan global, ratusan ribu penduduk bumi tewas akibat berbagai bencana alam.
"Kita harus mengetahui berbagai perubahan air laut untuk memahami cuaca atau memprediksi evolusi atmosfer selama beberapa bulan, tahun, bahkan beberapa dekade mendatang. Dalam hal ini, Jason 2 akan membantu membuat catatan global multidasawarsa untuk memberikan pemahaman terhadap peran vital laut dalam mengubah iklim," jelasnya. Oleh karena itu, Jason 2 dilengkapi sejumlah peranti yang dapat mendeteksi berbagai macam perubahan air laut.
Perubahan itu, di antaranya volume, ketinggian, dan suhu. Tidak hanya itu, Jason 2 juga akan menyediakan peta topografi dari 95 persen laut es setiap 10 harinya. Data-data tersebut selanjutnya dikirim ke Bumi untuk dianalisis oleh para ilmuwan. Menurut NASA, permukaan air laut global telah naik sekira 0,12inci (3milimeter) per tahun sejak 1993.
Para ilmuwan beranggapan perubahan ini terjadi akibat pemanasan di bumi maupun di laut, setelah mendapat pasokan air bersuhu lebih hangat dari mencairnya lapisan es di kutub. Saat ini ilmuwan AS dan Eropa tengah membahas pembuatan satelit Jason 3. Berbeda dengan dua pendahulunya, Jason 3 diharapkan akan menggunakan teknologi berbasis global monitoring for environment and security. Teknologi ini mampu memprediksi terjadinya perubahan iklim ekstrem dengan ketepatan yang lebih tinggi. Belum diketahui kapan Jason 3 akan rampung.
'Jason' Mampu Intai Perubahan Air Laut
Diposting oleh DWI PRATAMA
Label: ASTRONOMI
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar