F1 News

My BlogCatalog BlogRank
Tampilkan postingan dengan label Biologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biologi. Tampilkan semua postingan

Ikan Karang Menyala Merah untuk Berkomunikasi


Pontianak, KAMIS - Di antara celah karang yang tajam, ikan-ikan yang hidup di laut memiliki cara komunikasi yang unik satu sama lain. Misalnya, dengan kemampuan menyala dalam gelap atau fluorisensi untuk menunjukkan eksistensinya.

Berdasarkan hasil studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Biology edisi September 2008, setidaknya terdapat 32 jenis spesies ikan karang yang memiliki kemampuan tersebut. Ikan-ikan itu hidup pada kedalaman lebih dari 10 meter.


Salah satunya spesies Enneapterygius pusillus dan Pseudocheilinus evanidus yang baru diketahui menyala merah di kegelapan. Penemuan tersebut mengejutkan karena ikan laut secara teori lebih memilih warna hijau atau biru yang memiliki panjang gelombang pendek.

"Ikan laut umumnya tidak melihat atau menggunakan warna merah, kecuali beberapa ikan laut dalam," ujar Nico Machiels, dari Universitas Tuebingen, Jerman. Sebab, mata ikan lebih peka terhadap gelombang pendek.

ia mengatakan ikan-ikan tersebut tidak memproduksi sendiri warna merah itu. Namun, pigmen-pigmen di tubuhnya mengubah gelombang cahaya hijau dan biru yang jatuh ke tubuhnya dan memantulkannya menjadi gelombang cahaya merah.

Hal ini menunjukkan bahwa waran merah mungkin juga umum digunakan ikan laut. Tubuh yang berpendar menjadi cara ikan tersebut untuk berkomunikasi dengan sesamanya.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Selamat Datang Iguana Baru dari Fiji


JAKARTA, RABU - Katakan selamat datang kepada Brachylophus bulabula, spesies iguna baru dari Kepulauan Fiji. Namanya diambil dari Bula, kata sambutan selamat datang yang biasa diucapkan penduduk asli pada negara kepulauan di Samudera Pasifik tersebut.

Reptil yang berhidung kuning dan bertubuh belang tersebut merupakan spesies iguana ketiga yang ditemukan di Fiji. Sebelumnya hanya diketahui 2 spesies berbeda, namun dari hasil tes DNA menunjukkan terdapat spesies yang secara genetika berbeda dari dua spesies yang ada.

Robert Fisher, zoolog dari badan Geologi AS (USGS) di San Diego, AS mulai mempelajari keunikan morfologi dan genetika iguana tersebut sejak dua tahun lalu. setelah membandingkannya dengan sejumlah spesies sejenis di museum, ia menemukan keunikan fisik, genetik, maupun perilaku pada iguana tersebut.

"B. bulabula memiliki warna hidung yang lebih cerah dan corak berbentuk U yang khas di punggungnya," ujar Fisher yang melaporkannya dalam edisi terbaru "Philosophical Transactions of the Royal Society B." Dua bunglon yang sudah diketahui lebih dulu memiliki bentuk corak yang lancip seperti huruf V. Selain itu, spesies yang baru juga lebih menyukai kawasan hutan yang basah.

Fisher mengatakan di Fiji mungkin masih banyak spesies iguana yang belum ditemukan. Sebab, masih banyak daerah dan pulau yang belum dijelajahi termasuk kawasan pelosok di pulau-pulau terpencil.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Terapi Kanker Tak Lagi Menyakitkan


MELBOURNE - Para peneliti dari Swinburne University of Technology sudah selangkah lebih dekat untuk membawakan dunia kesehatan perawatan penyakit kanker yang tidak menyiksa. Semua ini berkat kemajuan terapi fototermal.

Terapi yang diklaim sebagai cara yang paling efektif ini masih dalam tahap percobaan dan melibatkan senyawa reaktif berupa nanorod emas. Nanorod tersebut akan dimasukkan ke dalam tumor pasien yang nantinya akan menyerap sinar laser untuk memanaskan sel-sel kanker dan mengidentifikasinya.

Nanorod berlapis emas ini sendiri dikembangkan di Swinburne Center oleh tim peneliti Micro-Photonics yang terdiri dari Min Gu, Jing Liang Li, dan Daniel Day. Metode terbaru ini diciptakan untuk menyoroti beberapa sel sehingga bisa dihancurkan dengan sinar laser inframerah. Sebelumnya penelitian ini sudah pernah dipublikasikan melalui harian Advanced Materials.

Untuk memperjelas cara kerja nanorod emas, Gu menyamakan prosedur fototermal seperti besi yang akan semakin hangat dan panas bila tertimpa sinar matahari.

"Dengan adanya nanorod berbahan dasar besi, sinar laser yang ditembakkan ke sasaran akan secara cepat memanaskan nanorod dan pada akhirnya bisa menghancurkan sel-sel kanker," jelas Gu seperti yang dikutip dari Big News Network Sabtu (27/9/2008).

"Bila gejala-gejala kanker bisa lebih awal dilacak, terapi fototermal akan memudahkan penyembuhan kanker. Ini berarti pasien yangt mengidap stadium awal kanker tidak harus berobat dengan cara radiasi atau kemoterapi. Dengan begitu efek samping yang menyakitkan dari kedua cara pengobatan tersebut bisa dihindari," jelas Day.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Makhluk Renik Tahan Radiasi Ruang Angkasa


PONTIANAK, SABTU — Radiasi elektromagnetik yang dipancarkan Matahari berbahaya jika terpapar langsung ke tubuh manusia. Namun, beberapa jenis hewan mungkin tahan. Misalnya, hewan renik yang sering disebut beruang air (Tardigrada).

Menurut laporan yang dilansir jurnal Current Biology terbaru, beruang air merupakan hewan pertama yang terbukti tahan hidup dalam ruangan hampa dan terpapar langsung radiasi Matahari di luar angkasa. Beruang air merupakan hewan multisel (bersel banyak), tak bertulang belakang, dan berukuran sekitar satu milimeter. Hewan tersebut hidup di hampir semua sudut ekosistem di belahan dunia.


Sejak lama hewan tersebut diketahui memiliki ketahanan tinggi terhadap lingkungan yang kering. Tubuhnya tahan meskipun kehilangan air hampir 100 persen. Saat mengalami dehidrasi seperti itu, beruang kutub akan melakukan dormansi (tidur panjang) sehingga metabolisme berhenti untuk sementara waktu. Pada kondisi dormansi tersebut, hewan ini menyesuaikan struktur selnya sampai tersedia kembali air dan kembali aktif.

Setahun lalu, Ingemar Jonsson, seorang pakar ekologi dari Universitas Kristianstad Swedia, membawa 3.000 ekor organisme renik tersebut dalam perjalanan 12 hari ke luar angkasa. Tujuannya mempelajari peluangnya hidup di lingkungan ekstrem luar angkasa.

"Temuan kami memastikan bahwa ruang hampa yang menyebabkan dehidrasi ekstrem dan radiasi kosmis bukan masalah bagi beruang air," ujar Jonsson. Namun, radiasi ultraviolet Matahari tetap merusak sel-sel tubuh hewan tersebut walaupun sebagian di antaranya tetap dapat bertahan hidup.

Jonsson menduga beruang air tetap mengalami kerusakan DNA saat terpapar radiasi tersebut. Hanya saja, gen yang dimilikinya mungkin memiliki kemampuan memperbaiki bagian tubuh yang rusak dengan cepat. Mungkin terdapat molekul khusus yang mengatur pemulihan tersebut.

Jika benar demikian, penelitian terhadap beruang air akan memberikan informasi berharga untuk mengembangkan pengobatan terhadap penyakit-penyakit turunan. Pada riset selanjutnya, para ilmuwan ditantang untuk mengetahui mekanisme di balik kemampuan beruang kutub mengatasi radiasi.

"Pengetahuan apa pun mengenai pemulihan kerusakan genetika merupakan pusat ilmu kedokteran," ujar Jonsson. Terapi radiasi untuk pengobatan kanker saat ini masih menghadapi masalah karena sel-sel yang sehat ikut berisiko rusak karena terpapar.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Eureka, Inilah "Semut dari Mars"


Pontianak, SABTU — Semut spesies baru yang ditemukan di hutan Amazon ini hidup di bawah tanah dan buta selama hidupnya. Para ilmuwan yang menemukannya yakin semut tersebut masih keturunan langsung semut purba yang pertama kali menghuni Bumi.

Seorang mahasiswa program studi biologi evolusi Universitas Texas, AS, Christian Rabeling, menemukannya pertama kali di hutan hujan Empresa Brasileira de Pasquisa Agropecuaria di Manaus, Brasil, tahun 2003. Ia adalah satu-satunya koloni semut yang hidup di bekas pohon yang membusuk di dalam tanah.

Maka, pantas kalau penemunya memberi nama Martialis heureka yang artinya semut dari Mars saking unik dan anehnya. Semut tersebut tak lagi menggunakan indera penglihatan dan tak membutuhkan pigmen atau pewarna tubuh karena telah beradaptasi dengan lingkungan yang gelap gulita. Sebagai gantinya, ia memiliki tubuh memanjang dan capit yang panjang yang diduga untuk meraba dan menangkap mangsa.

Martialis heureka tidak hanya tercatat sebagai spesies baru, tapi juga membentuk kelompok genus tersendiri, bahkan subfamili baru. Subfamili terakhir ditemukan tahun 1967. Saat ini semut terbagi dalam 21 subfamili.

Sampel DNA yang diambil dari kakinya menunjukkan bahwa semut dari Mars menempati pangkal pohon evolusi semut. Dari sifat genetikanya, semut diperkirakan mulai muncul sejak 120 juta tahun lalu dari nenek moyang yang sama dengan tawon. Para ilmuwan meyakini semut segera tersebar ke dalam habitat yang berbeda-beda, di tanah, dedaunan, dan sebagainya.

"Penemuan ini mendukung pendapat bahwa semut predator yang buta dan hidup di dalam tanah muncul di awal evolusi," ujar Rabeling. Meski demikian, hal tersebut bukan berarti nenek moyang semut buta dan hidup di tanah. Namun, saat mulai berevolusi, semut telah beradaptasi dengan lingkungan tanah hutan tropis.

Rabeling mengatakan, Martialis heureka memberi petunjuk bahwa rahasia evolusi semut mungkin masih tersembunyi di balik hutan hujan tropis. Penemuan yang dilaporkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences ini juga memberikan informasi baru untuk mempelajari lebih mendalam keragaman hayati serangga, khususnya semut.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Polusi Suara Ganggu Komunikasi Satwa Laut



LONDON - Polusi suara yang dihasilkan aktivitas di lautan menggangu kehidupan satwa laut, khususnya ikan paus dan mamalia laut lain. Polusi suara dihasilkan dari suara bising mesin dan baling-baling kapal laut, serta peralatan eksplorasi minyak dan gas lepas pantai.

Lembaga internasional The International Fund for Animal Welfare (IFAW) menyatakan, suara yang dihasilkan aktivitas manusia di laut akan mengganggu komunikasi satwa. Frekuensi yang dihasilkan dari polusi suara di laut membuat paus kesulitan mencari makanan. Kondisi itu mengakibatkan kehidupan satwa laut menjadi terancam.

"Ketika tak seorang pun mengerti konsekuensi polusi udara, setidaknya kami berupaya mencegah kerugian yang disebabkan polusi suara sebelum terlambat," kata direktur IFAW, Robbie Marsland, dikutip dari FoxNews, Selasa (16/9/2008).

Laporan tersebut juga menunjukkan energi yang dihasilkan dari sistem sound navigation and ranging (Sonar) yang digunakan militer juga mengancam kehidupan bawah laut. Sonar merupakan sistem gelombang suara bawah air yang dipancarkan dan dipantulkan untuk mendeteksi dan menetapkan lokasi obyek di bawah laut atau untuk mengukur jarak bawah laut.

Cara kerja perlengkapan sonar adalah dengan mengirim gelombang suara bawah permukaan dan kemudian menunggu untuk gelombang pantulan (echo). Data suara dipancar ulang ke operator melalui pengeras suara atau ditayangkan pada monitor.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Peneliti Dunia berupaya Pecahkan Kode Genetika Kentang



LIMA - Harga pangan dunia yang semakin melambung tinggi, dan ledakan jumlah penduduk membuat sebagian peneliti dunia berupaya membuat varietas baru tanaman pangan untuk mengatasi masalah ketahanan pangan di masa depan.

Sebanyak 13 peneliti dunia dari Selandia baru, seperti� dikutip dari Reuters, Minggu (14/9/2008), bekerja sama dengan peneliti Peru dan India untuk memecahkan kode genetika tanaman kentang, dalam upaya membuat varietas unggul.

Selama ini, kentang putih atau dalam bahasa latin dikenal Solanum tuberosum dikenal memiliki gen yang sulit dipecahkan. Kentang putih memiliki 12 kromosom dan 840 juta pasang DNA. Sebagai perbandingan, manusia memiliki 3 Miliar pasang DNA.

Kelompok peneliti yang tergabung dalam The Potato Genome Sequencing Consortium diperkirakan akan melakukan riset mereka hingga tahun 2010. Jika misteri gen Kentang terpecahkan, maka petani kentang dunia dapat menanam kentang yang tahan terhadap segala penyakit, suhu, dan memiliki produktivitas tinggi.

"Kami akan mendesain bibit yang lebih efektif setelah kita mengetahui kode genetika kentang," kata professor biologi Cayetano Heredia University, Gisella Orjeda. Peru dipilih sebagai tuan rumah penelitian karena tanaman kentang pertama kali ditemukan di pegunungan Andes Peru sekitar 8000 tahun lalu.

Kentang merupakan tanaman pangan ketiga terbesar yang dibutuhkan masyarakat dunia setelah gandum dan beras. Pada tahun 2008, PBB mencanangkan "International Year of the Potato" untuk mengatasi bertambahnya tingkat kelaparan. Saat ini China menjadi negara penanam kentang terbesar.

"Kentang tak hanya dibutuhkan saat ini saja, tetapi sejak lama kentang telah menjadi kebutuhan utama," kata Gisella.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Vitamin B12 Mampu Cegah Otak Rusak di Waktu Tua

SAN FRANSISCO - Otak menjadi inti kehidupan bagi kelangsungan makhluk hidup. Hasil penelitian dari neurologis memperkirakan vitamin B12 yang bisa didapat dari daging, ikan, dan susu, bisa melindungi volume otak dari kerusakan karena faktor umur.

Penelitian teranyar menemukan bahwa orang yang berkadar B12 tinggi memiliki kemampuan enam kali lebih aman dari resiko penyusutan otak dibanding mereka yang berkadar vitamin B12 lebih rendah dalam darah. Tidak ada satupun dari responden penelitian ini yang kekurangan B12.

Penelitian ini dilakukan terhadap 107 responden dengan batas umur antara 61 hingga 87 tahun melalui pemindaian otak, pengujian daya ingat, serta uji fisik. Selain itu peneliti mengambil sampel darah untuk menguji tingkat vitamin B12 dalam darah dan mengulang pengecekan otak serta pengujian daya ingat 5 tahun kemudian setelah pemeriksaan terakhir.

"Sebenarnya banyak faktor yang sering tak terpikirkan bisa merusak otak. Penelitian ini bisa menjadi sebuah saran sederhana untuk mulai lebih banyak mengonsumsi B12 dengan asupan daging, ikan, sereal, atau susu sehingga bisa mencegah penyusutan otak dan menjaga daya ingat," papar seorang pengarang yang melakukan penelitian dengan University of Oxford di Inggris Anna Vogiatzoglou , dari keterangannya yang dikutip dari Scince Daily Jumat (12/9/2008).

"Penelitian ini menunjukkan bahwa kurangnya asupan vitamin B12 bisa menjadi gangguan kesehatan publik, terutama bagi para lansia. Tanpa adanya penelitian ini, tidak akan pernah diketahui bahwa suplemen vitamin B12 sebenarnya bisa membuat perubahan untuk masalah penyusutan otak," tambahnya.

Namun ternyata penelitian ini tidak menjamin penuh akan bisa berefek sama pada ingatan bila penderita atau pasien bersugesti mengasup vitamin B12 untuk mengembalikan daya ingat.

Sebagai informasi, penelitian ini merupakan bagian dari proyek University of Oxford untuk menyelidiki kaitan daya ingat dan umur dengan didukung dan ditindak serius oleh banyak institusi kesehatan internasional besar seperti UK Alzheimer's Research Trust, The Medical Research Council, The Charles Wolfson Charitable Trust, The Norwegian Foundation for Health and Rehabilitation through the Norwegian Health Association, Axis-Shield plc, dan the Johan Throne Holst Foundation for Nutrition Research.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Kenapa Lalat Sulit Dipukul?


PONTIANAK, RABU — Sudah berapa kali Anda berhasil memukul lalat dengan tangan? Sulit bukan? Rahasia di balik kemampuan tersebut kini telah diketahui penjelasannya.

Selama 20 tahun meneliti biomekanika sayap lalat, Michael Dickinson dari Institut Teknologi California (Caltech) baru memecahkannya sekarang. Itu pun karena dia selalu penasaran terhadap pertanyaan yang sederhana dan sering dilontarkan banyak orang yang ditemuinya.

"Sekarang saya punya jawabannya," ujar Dickinson yang melakukan penelitian bersama Esther M dan Abe M Zarem. Ia menemukan rahasia tersebut setelah merekam manuver sejumlah lalat yang terancam pukulan menggunakan kamera digital yang dapat merekam dengan kecepatan dan resolusi tinggi.

Mereka menemukan bahwa lalat dapat mengenali ancaman berdasarkan lokasi. Otanya akan menghitung seberapa jauh ancaman terhadapnya sebelum memutuskan untuk mengepakkan sayap dan kabur.

Setelah memprediksi arah ancaman, kakinya bertumpu untuk terbang ke arah yang berlawanan. Semua persiapan meloloskan diri dapat dilakukannya dengan sangat cepat, hanya 100 milidetik setelah ia mendeteksi adanya bahaya.

"Ini menunjukkan begitu cepatnya otak lalat memproses informasi sensorik menjadi respons gerakan yang sesuai," ujar Dickinson. Bahkan, lalat mengatur postur tubuhnya sesuai besar ancaman.

Artinya, lalat telah mengintegrasikan dengan baik antara informasi visual dari mata dan informasi metasensorik di kakinya. Temuan ini memberikan petunjuk mengenai sistem saraf lalat dan menunjukkan bahwa di otaknya terdapat sistem pemetaan posisi ancaman.

"Ini sebuah transformasi rangsangan menjadi gerakan yang sedikit kompleks dan penelitian berikutnya mencari bagian otak yang mengaturnya," ujarnya.

Dari sistem tersebut, Dickinson juga dapat menyarankan cara paling efektif memukul lalat. Menurutnya, waktu terbaik memukul lalat bukan saat posisinya siap terbang sehingga waktu yang dibutuhkannya untuk mengantisipasi ancaman tersebut relatif lebih lama. Tentu tak mudah melakukan gerakan akurat kurang dari 100 milidetik.




ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email







Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Burung Murai Sadar Bercermin


HAMBURG, RABU - Jika Anda memiliki burung, coba sekali-sekali hadapkan ke depan cermin. Apa reaksinya. Apakah ia menolehkan kepala ke kanan dan kiri layaknya manusia yang tengah berdandan?

Umumnya hal tersebut merupakan kemampuan dasar primata seperti simpanse dan manusia. Lumba-lumba dan gajah juga telah terbukti punya kemampaun tersebut.

Sebagian burung ternyata memang dapat melakukannya dan mengenalinya dirinya di depan cermin. Namun, tak semua jenis burung. Burung betet dan beo memang merespon cermin namun mereka tak tahu bahwa di balik cermin adalah bayangannya.

Hanya burung-burung yang memiliki interaksi sosial tinggi yang mengenali bayangan dirinya di balik cermin. Terutama burung dari kelompok gagak. Baru-baru ini, burung murai dari sopesies Pica pica juga lulus tes bercermin.

Dalam percobaan di laboratorium, peneliti Jerman dari Universitas Goethe Frankfurt, menguji lima ekor murai. Masing-masing bernama Gerti, Goldie, Harvey, Lilly, dan Schatzi. Pada masing-masing bulunya ditempelkan stiker berwarna kuning dan merah yang hanya dapat dilihat dari cermin.

Saat dihadapkan di depan cermin, burung-burung murai tersebut sangat sibuk memperhatikan tanda yang kontras di tubuhnya itu. Masing-masing kemudian mencoba meraihnya dengan paruh dan kukunya. Dalam beberapa kali percobaan, mereka sukses melepaskannya dan berhenti setelah berhasil.

Namun, saat diberi stiker berwarna hitam yang tidak terlalu berbeda warna dengan bulunya, mereka tak terlalu meresponnya. Burung-burung tersebut juga tak melakukan tindakan apapun terhadap stiker tersebut saat tidak dihadapkan pada cermin.

"Secara umum, hasilnya menunjukkan bahwa burung murai mampu memahami bahwa bayangan dirinya di cermin," demikain kesimpulan yang dimuat para peneliti dalam jurnal PLoS Biology edisi terbaru. Mereka menyatakan tidak sampai meneliti tingkat pengenalannya namun baru sekadar respon terhadap bayangan sendiri.

Pengenalan bayangan diri sendiri merupakan faktor penting dalam interaksi. Antara lain untuk membandingkan pengalamannya dengan pengalaman sesamanya.




ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email







Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Hati Manusia Bisa Diganti Hati Babi


LONDON, Rabu — Para ahli asal Inggris dan AS sedang mengembangbiakkan rekayasa genetika pada babi dengan tujuan mendapatkan organ tubuh untuk transplantasi pada manusia.

Para ahli di London dan California itu mulai melakukan uji coba genetik untuk mencari solusi bagi banyaknya pasien yang antre untuk melakukan cangkok organ tubuh. Demikian dikatakan Robert Winston, ilmuwan asal Inggris, dalam tulisannya untuk koran Inggris Sunday Times.

Jika penelitian ini sukses, maka hati manusia bisa digantikan dengan hati babi. Dalam uji cobanya, para ilmuwan itu memperkenalkan gen manusia pada babi untuk mengurangi kemungkinan organ mereka ditolak pasien manusia.

Di Inggris saja, sekitar 8.000 pasien menunggu operasi cangkok organ tubuh. "Banyak oang membutuhkan jantung atau hati baru dari seseorang yang sudah meninggal dunia, biasanya korban tewas dalam kecelakaan lalu lintas. Tim kami berusaha merekayasa babi sehingga organ mereka bisa menyelamatkan hidup manusia," kata Winston dalam koran itu.

Winston adalah Kepala Institut Reproduksi dan Pengembangan Biologi di London’s Hammersmith Hospital. Bekerja sama dengan Dr Carol Redhead dari Institut Teknologi California, tim ini menyuntikkan gen manusia secara langsung kepada anak babi jantan.

Winston mengatakan, sejumlah babi yang terlibat dalam uji coba sukses menghasilkan sperma yang mengalami perpindahan genetik. Hanya saja, undang-undang di Inggris dan Eropa melarang tim ini menggunakan babi-babi tersebut untuk membuahi babi betina.

Sunday Times melaporkan, uji coba akan dipindahkan ke AS menyusul kesulitan pendanaan dan pelarangan di Inggris. Disebutkan, pengembangbiakkan babi itu akan dilakukukan di Missouri.

Para ahli sebelumnya mengecam ide menggunakan organ hewan untuk transplantasi manusia karena teknik itu berisiko menularkan virus kepada manusia. Namun, Winston menegaskan, penelitiannya berusaha mengembangbiakkan babi antivirus.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email







Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Ikan Sama Cerdasnya dengan Tikus


EDINBURGH - Peneliti St Andrews University, Skotlandia, berhasil membuktikan ikan merupakan binatang yang cerdas melalui sebuah penelitian baru-baru ini. Kecerdasan binatang yang hidup dalam air ini sama dengan mamalia.


Penelitian itu menggunakan ikan mas air tawar sebagai objek penelitian. Seorang anggota peneliti, Dr Mike Webster, mengatakan ikan akan menjadi sangat cerdas jika berada dalam keadaan bahaya atau kondisi terancam.

"Penelitian ini membuktikan ikan sama cerdasnya dengan tikus," ujar Webster, seperti dikutip dari Telegraph, Minggu (31/8/2008).

Hasil penelitian menggambarkan bagaimana tingkah laku ikan menghadapi pemangsa dengan menggunakan teknik shared learning.

Teknik itu memperlihatkan seekor ikan mengadopsi dan belajar dari tingkah ikan lain untuk menghindari pemangsa, namun ketika ancaman telah hilang maka ikan bergerak sesuai keinginan sendiri.

Webster menambahkan, percobaan itu memberikan gambaran jelas bagaimana seekor ikan mampu meningkatkan kecerdasan untuk membuat keputusan jika berada dalam ancaman. "Ikan lain juga memiliki kemampuan yang sama dalam melihat tingkah laku sesamanya," ujarnya.

Kendati demikian, ia mengatakan penelitian itu akan terus dikembangkan untuk mengetahui lebih jauh tingkat kecerdasan ikan.



ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Manuver Super Cepat, Bikin Lalat Susah Ditepuk


CHICAGO - Otak lalat ternyata memiliki sistem yang cepat untuk mengantisipasi bahaya yang datang, termasuk bahaya tepukan yang berujung kematian sang lalat.


Menghindari tepukan bagi lalat bukanlah hal yang sulit. Saat dirinya merasa terancam maka saat itu pula otak sang lalat merespon dengan melakukan manuver yang super cepat. Bahkan mnuver tersebut dilakukan sang lalat dengan melakukan gerakan ke arah yang berlawanan. Hal ini dipercaya sebagai langkah yang sangat penting untuk menghindari ancaman dari tepukan manusia.

"Gerakan-gerakan ini dilakukan dengan sangat cepat dan akurat. Sebelumnya, sang lalat harus merespon sinyal bahaya yang dirasakannya hanya dalam waktu 200 milisecond, termasuk membentuk posisi ancang-ancang dengan mempersiapkan kaki dan sayapnya, untuk melakukan manuver penyelamatan," ujar ilmuwan dari Institut Teknologi California Michael Dickinson, seperti dikutip melalui Reuters, Sabtu (30/8/2008).

Menurut Dickinson, manuver ini menunjukkan betapa otak seekor lalat mampu memroses informasi yang berasal dari sensor menjadi sebuah respon gerakan yang cukup hebat.

Tim peneliti asuhan Dickinson ini telah cukup lama mempelajari gerak seekor serangga hanya dengan menggunakan sebuah kamera perekam video dan sebuah alat tepuk lalat.

"Temuan ini memberikan solusi juga kepada kita untuk tidak menepuk lalat saat ia sedang melakukan manuver untuk terbang," ujar Dickinson yang saat ini tercatat sebagai ilmuwan biologi yang mendedikasikan hidupnya selama bertahun-tahun untuk meneliti kehidupan lalat. Bahkan Dickinson telah berhasil membuat sebuah robot kecil yang memiliki kemampuan terbang bernama Robofly, dan sebuah simulator terbang visual tiga dimensi yang diberi nama Fly-O-Vision.



ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Burung Berdada Oranye Spesies Baru dari Gabon


WASHINGTON, SENIN - Seekor burung yang memiliki warana dada oranye cerah yang hidup di pedalaman hutan Gabon, Afrika dipastikan sebagai spesies baru. Para ilmuwan telah memberinya nama Stiphrornis pyrrholaemus dan menyebutnya burung robin hutan berpunggung olive,abu-abu kehijauan.

Tes genetika memastikan burung yang memiliki panjang sekitar 12 centimeter dan berat 14 gram itu memiliki keunikan dibanding spesies burung sejenis. Tim peneliti dari Institut Smithsonian yang menemukan burung tersebut melaporkannya dalam jurnal Zootaxa terbaru.

"Saya mulai penasaran saat menemukannya untuk pertama kalinya di Gabon sejak tidak ada deskripsi spesies yang sesuai dalam panduan lapangan," ujar Brian Schmidt, ahli burung dari Museum Nasional Smithsonian seperti dilansir Reuters. Penampilan yang paling mencolok dan membedakannya dengan burung lainnya adalah titik berwarna putih di dekat kedua matanya.

Seperti dideskripsikan dalam jurnal ilmiah, burung yang berjenis kelamin jantan memiliki bulu kerongkongan dan dada berwarna oranye, perut kuning, punggung olive, dan kepala hitam. Sementara burung betina memiliki warna mirip namun sedikit lebih cerah.

Meski penemuan spesies robin hutan berpunggun olive ini bukan tujuan utama proyek kami, hal tersebut sungguh pengingat bahwa dunia masih penuh kejutan," ujar Schmidt yang menemukannya secara tak sengaja.

ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Spesies Ular Terkecil Ditemukan di Barbados


SAN JUAN, SENIN - Ular terkecil di dunia tak lebih besar dari cacing tanah. Panjang tubuhnya saat dewasa tak lebih dari 10 cm.

Pakar biologi evolusi dari Pennsylvania State University AS, S Blair Hedges, menemukan spesies tersebut di Barbados, pulau paling timur di Kepulauan Karibia. Penemuan tersebut akan dipublikasikan di jurnal Zootaxa edisi Senin (4/8) sebagai spesies baru dengan nama Leptotyphlops carlae yang diambil dari nama herpetolog Carla Ann Hass yang kebetulan istri Hedges.

Perilaku dan kehidupan ekologinya masih belum banyak diketahui. Namun, Hedges telah memastikan secara fisiologi maupun genetika berbeda dengan 3.100 jenis ular yang telah ditemukan di seluruh dunia.

Ular berwarna coklat itu memangsa serangga dan rayap dan termasuk ular yang tidak beracun. Hedges menemukannya di balik bebatuan dekat kawasan yang berhutan. Ular tersebut tergolong kelompok ular cacing yang biasa ditemukan di wilayah tropis. Ia mungkin jenis yang langka dan terancam punah.

"Spesies baru dan eksotis masih ditemukan di Kepulauan Karibia meskipun hutan tropis yang tersisa sangat sempit," ujar Hedges. Penemuan satwa-satwa terkecil di Barbados menambah kekayaan hayati kawasan kepualaun di Amerika Tengah tersebut.

Struktur tubuh yang kecil juga menggambarkan keragaman genetika yang unik di kepulauan tersebut. Hal tersebut mungkin ada kaitannya dengan evolusi di mana makhluk hidup mengembangkan anggota tubuh yang paling sesuai dengan kondisi lingkungannya untuk bertahan hidup.

Para ilmuwan banyak menemukan hewan-hewan yang berukuran kecil sebelumnya. Selain ular terkecil di dunia, di wilayah Kuba juga dapat ditemui burung kolibri madu yang merupakan burung terkecil di dunia. Ular terkecil kedua juga ditemukan di Martinique. Tim Hedges sebelumnya juga menemukan katak terkecil di dunia di Kuba serta cicak terkecil di dunia di Republik Dominika.

"Ular tersebut mungkin mengalami seleksi alam sehingga hanya yang kecil yang bertahan," ujar Hedges. Jenis ular tersebut biasanya hanya menghasilkan satu keturunan sepanjang hidupnya atau menghasilkan satu butir telur setiap bereproduksi.

Namun, bayi ular tergolong besar dengan ukuran setengah dari panjang ular dewasa. Sebagai perbandingan, bayi ular terbesar di dunia hanya memiliki panjang sepersepuluh ular dewasa. Misalny,a anak king kobra yang hanya sepanjang 36 cm meskipun ular dewasa dapat tumbuh hingga 5,5 meter.

"Fakta bahwa ular tersebut menghasilkan satu telur raksasa, relatif terhadap ukuran induknya, menunjukkan bahwa seleksi alam mencoba menjaga ukuran keturunan di atas batas kritis untuk bertahan hidup," Hedges menjelaskan.



ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Dinosaurus Tumbuh Cepat Agar Tak Dimakan

LONDON, KAMIS - Dinosaurus bermoncong bebek yang menjadi makanan favorit Tyrannosaurus Rex tumbuh "gila-gilaan" dari telur hingga dewasa untuk mencegah dirinya menjadi mangsa predator ganas itu. Demikian hasil penelitian yang diumumkan Rabu (6/8).

Dinosaurus jenis Hypacrosaurus tumbuh tiga hingga lima kali lebih cepat dibanding semua pemangsanya, termasuk T-rex. Mereka juga memiliki anak dalam usia muda agar populasinya cukup banyak untuk menjaga keberadaan jenisnya.

"Saat dinosaurus berparuh bebek tumbuh dewasa, T-rex baru separuh tumbuh," kata peneliti Drew Lee. Begitu dewasa, dinosaurus pemakan tumbuhan yang hidup 67 juta hingga 80 juta tahun lalu itu menjadi sebesar T-rex yang tingginya lebih dari 9 meter. Namun, mereka tidak memiliki tanduk atau perisai untuk mempertahankan diri.

Oleh karenanya mereka mempertahankan populasi dengan tumbuh sangat cepat, yakni 10-12 tahun dari bayi menjadi dewasa, dibanding T-rex yang perlu 20-30 tahun. "Kami sungguh terkesan dengan kecepatan tumbuh mereka," ujar Lisa Cooper, seorang mahasiswa doktoral di Universitas Negeri Kent di Ohio.

Adapun para peneliti mengukur kecepatan tumbuh itu berdasar bagian tulang kaki mereka yang memiliki cincin-cincin seperti pohon yang merupakan indikator usia berdasar tahun. "Bila kita lihat potongan melintang tulang dari bayi dinosaurus, tampak jarak besar yang menunjukkan pasokan darah di mana mereka tumbuh sangat cepat," tambahnya.

Hypacrosaurus juga bereproduksi lebih cepat dan mencapai kedewasaan seksual pada usia dua atau tiga tahun. "Ini adalah salah satu keuntungan dalam mempertahankan populasi dan keberadaan jenis itu."

ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Pari Raksasa di Indonesia Mungkin Spesies Baru

Pontianak, Selasa - Jenis ikan pari raksasa yang sering disebut pari manta ternyata terdiri dari dua spesies berbeda. Pari manta yang selama ini sering dilihat adalah spesies yang berukuran lebih kecil dan banyak hidup di dekat pantai.

Spesies yang berukuran tubuh lebih besar jarang terlihat dan hidup di perairan dalam. Meski lebih besar, ikan pari manta ini tidak memiliki penyengat beracun di ekornya. Kelompok spesies kedua ini kelihatannya juga memiliki daya jelajah lebih jauh dan lebih sensitif terhadap kehadiran manusia.

Hanya penyelam beruntung yang dapat melihat jenis pari manta raksasa ini. Keragaman pari manta tersebut dilaporkan pertama kali oleh Andrea Marshall, seorang kandidat doktor di Universitas Queensland, Australia dalam simposium mengenai ikan pari di Montreal, Kanada.

Manta selama ini dikenal sebagai keluarga ikan pari yang paling besar dan dapat tumbuh hingga seberat lebih dari dua ton. Pari manta dapat tumbuh hingga selebar 8 meter.

Dua jenis pari manta sama-sama hidup di semua bagian lautan namun memiliki gaya hidup berbeda. Pari manta yang lebih kecil dapat ditemui di perairan Hawaii, Maldives, Mozambik, Australia, dan Jepang. Sementara kehidupan pari manta kedua masih misterius.

"Seberuntung saat menemukannya, hanya di Mozambik kami melihat keduanya berinteraksi pada kawasan karang yang sama," ujar Marshall. Ia memastikan ikan pari manta tersebut sebagai spesies bebeda setelah melakukan pengujian DNA.

Kehidupan pari manta tersebut mungkin dapat dilacak di Indonesia. Sebab, selain hidup di Mozambik, pari manta raksasa tersebut sering terlihat bermigrasi ke perairan Indonesia.
ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Kupu-kupu, Keunikan Tiada Tara


TIDAKLAH berlebihan bila kupu-kupu dikatakan sebagai primadona di antara satwa avertebrata lainnya. Sayapnya yang indah dan menarik mampu memikat hati banyak orang. Susunan sisik serupa atap genteng pada sayap kupu-kupu memberi corak serta pola warna, dan ini merupakan dasar pemberian nama pada kelompok serangga ini, yaitu Lepidoptera.

Indonesia dianugerahi keragaman kupu-kupu yang berlimpah. Dari perkiraan 17.500 jenis kupu-kupu di dunia, tak kurang dari 1.600 jenis di antaranya tersebar di Indonesia. Kekayaan jumlah jenis ini hanya tertandingi oleh negara-negara tropis di Amerika Selatan, seperti Peru dan Brasil yang mempunyai sekitar 3.000 jenis.

Gambaran tentang keragaman dan kekayaan jenis kupu-kupu Indonesia dapat terlihat di sini. Spesimen kupu-kupu tersimpan dengan baik di Laboratorium Entomologi, Bidang Zoologi, Museum Zoologi Bogor, dan Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Geografis mendukung

Keadaan geografis Indonesia sangat mendukung kekayaan khazanah flora dan fauna Nusantara, dengan pengaruh elemen Asia di kawasan barat, elemen Australia di kawasan timur, dan pengaruh kedua elemen di kawasan Wallacea.

Dari sekitar 1.600 jenis kupu-kupu ini, sebagian tersebar di seluruh Indonesia, sementara sebagian lainnya hanya dapat dijumpai di beberapa pulau tertentu.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki keunikan dalam hal sebaran fauna, yang dikenal sebagai endemisitas. Tingkat endemisitas yang tinggi terlihat jelas sekali pada kupu-kupu Indonesia, yang mencapai lebih dari 35 persen dari total jumlah jenis yang menduduki peringkat pertama di dunia.

Peru, Brasil, dan negara-negara lain di Amerika Selatan hanya memiliki tingkat endemisitas kupu-kupu kurang dari 10 persen dari total jumlah jenisnya. Artinya, keunikan kupu-kupu Indonesia jauh melebihi negara-negara mana pun di dunia.

Sulawesi adalah pulau yang memiliki keunikan kupu-kupu tertinggi di Indonesia. Dari 557 jenis yang ada di sana, sebanyak 239 jenis (lebih dari 40 persen) merupakan jenis yang hanya dapat dijumpai di kawasan itu, contohnya Papilio blumei.

Kupu-kupu juga dijadikan simbol metamorfosis yang menakjubkan. Dalam perubahan fase kehidupan (telur-ulat-kepompong-kupu-kupu dewasa), sesungguhnya banyak satwa yang juga mengalami proses metamorfosis serupa, misalnya nyamuk, tawon, dan kumbang. Namun, karena keindahan wujud dewasanya yang sangat kontras dengan bentuk pradewasa, kupu-kupulah yang sering disorot. Dengan demikian, kupu-kupu sering menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi banyak orang.

Ancaman dan perlindungan

Seperti satwa lainnya, kupu-kupu juga menghadapi ancaman kelangkaan dan kepunahan, terutama disebabkan alih fungsi lahan dan habitatnya. Kebanyakan jenis kupu-kupu sangat bergantung pada satu atau dua jenis tumbuhan, yang umum disebut sebagai tanaman inang, sehingga ancaman terhadap jenis tumbuhan tersebut sama saja dengan mengancam keberadaan kupu-kupu.

Jika jenis kupu-kupu itu berperan sebagai penyerbuk tanaman buah atau tanaman potensial lainnya, hilangnya kupu-kupu akan berdampak negatif terhadap produksi tanaman tersebut. Keterkaitan kupu-kupu yang sangat erat dengan tanaman inangnya membuat usaha pelestarian habitat semakin diperlukan.

Dari sekian banyak jenis kupu-kupu di Indonesia, ada 19 jenis yang telah dimasukkan ke dalam daftar jenis satwa yang dilindungi di Indonesia, yaitu Cethosia myrina yang dikenal sebagai kupu-kupu sayap renda dan hanya dijumpai di Sulawesi, Trogonoptera brookiana yang dikenal sebagai kupu-kupu raja Brooke yang dijumpai di Sumatera dan Kalimantan.

Enam jenis kupu-kupu dari marga Ornithoptera yang dikenal sebagai kupu-kupu sayap burung dijumpai di Maluku dan Papua. Adapun 11 jenis kupu-kupu dari marga Troides yang dikenal sebagai kupu-kupu raja (contohnya Troides hypolitus), kebanyakan dijumpai di Indonesia bagian barat dan Sulawesi, serta beberapa jenis berada di Maluku dan Papua.

Masih banyak lagi jenis kupu-kupu yang layak mendapatkan status perlindungan karena berbagai ancaman yang dihadapi. Sebagai contoh, kupu-kupu sayap burung Ornithoptera aesacus yang hanya ditemukan di Pulau Obi dan kupu-kupu sayap burung Ornithoptera croesus yang hanya ditemukan di pulau-pulau di Maluku Utara, perlu segera mendapat perhatian dan perlindungan.

Temuan jenis baru

Kupu-kupu telah menarik perhatian banyak orang sejak lama sehingga kegiatan eksplorasi pengumpulan berbagai jenis kupu-kupu juga telah dilakukan di berbagai belahan Bumi, termasuk di kawasan Nusantara. Saat ini tidak terlalu banyak ditemukan kupu-kupu jenis baru, tetapi tidak tertutup kemungkinan ditemukannya jenis-jenis baru dari pelosok Nusantara.

Selain temuan jenis baru sebagai rekaman sejarah, penggalian potensi kupu-kupu juga harus terus dilakukan. Kontribusi kupu-kupu terhadap kemajuan ilmu medis terbilang cukup signifikan. Demikian besar potensi dan pesona kupu-kupu Indonesia sehingga kita selayaknya memberi ruang bagi kelangsungan hidup mereka.

Penulis: Djunijanti Peggie MSc, PhD, Peneliti kupu-kupu di Bidang Zoologi (Museum Zoologi Bogor), Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan IndonesiaSelengkapnya....!

[+/-] Selengkapnya...

Anjing Langka Asli Tibet Sukses Dikloning



SEOUL, MINGGU - Setelah berhasil mengkloning anjing pengendus kanker, para peneliti di Korea Selatan juga sukses melakukannya pada anjing langka asli Tibet. Keberhasilan ini menjanjikan masa depan kloning untuk membantu konservasi satwa langka.

Seperti dilansir The Sooan Biotech Research Foundation, 17 ekor anjing mastiff Tibet hasil kloning lahir pada April lalu. Kloning tersebut atas permintaan Akademi Sains China dan dilakukan tim ilmuwan yang dipimpin Hwang Woo-suk, mantan ilmuwan kenamaan Korea Selatan yang dipecat dari Universitas Nasional Seoul karena terbukti melakukan pemalsuan data kloning manusia.

Anjing-anjing kloning tersebut berasal dari dua ekor anjing berbeda, masing-masing seekor jantan dan seekor betina. Para peneliti membutuhkan enam ekor induk angkat (surrogate mother) yang digunakan rahimnya.

Sayang, belum ada pernyataan resmi bahwa 17 anjing tersebut benar kloning. Sebab, perusahaan bioteknologi Korsel Kogene Biotech, yang diminta melakukan analisis DNA tidak mengambil sampel sel secara langsung.

Kogene Biotech menyatakan bahwa pihaknya tidak dapat memastikan sampel-sampel mana saja yang berasal dari anjing kloning, dari induknya, atau kombinasi keduanya. Hasil penelitian tersebut memang belum dipublikasikan dan data-datanya masih dirahasiakan.

Sejak terbukti melakukan manipulasi data penelitian yang mengklaim berhasil mengkloning sel induk embrionik manusia, sepak terjang Hwang terus disorot dan tak sebebas sebelumnya untuk melakukan riset kloning di negaranya. Meski sedikit tercoreng dengan skandal tersebut, tim peneliti yang sempat dipimpin Hwang terbukti berhasil mengkloning anjing untuk pertama kalinya di dunia. Kloning anjing jenis Afghan yang diberi nama Snuppy -- nama dari SNU puppy -- dilakukan pada tahun 2005.

Saat ini tim peneliti yang sama telah beberapa kali berhasil mengkloning anjing. Jenis Afghan kembali dikloning sebanyak tiga ekor. Mereka juga mengkloning tujuh ekor anjing pelacak atas pesanan Dinas Bea Cukai Korsel serta empat ekor anjing pengendus kanker dari Jepang melalui perusahaan bioteknologi RNL Bio.Anjing Langka Asli Tibet Sukses Dikloning


[+/-] Selengkapnya...

Hadapi Jamur, Katak Pun Berjemur


Pontianak, Jumat - Jamur chytrid (Batrachochytrium dendrobatidis) merupakan ancaman terbesar yang dihadapi katak di berbagai belahan dunia karena sebagai penyebab utama kematian massal. Untuk menghadapi serangan jamur tersebut, sejumlah spesies katak mulai beradaptasi dengan berjemur di bawah terik sinar Matahari.

Itulah kesimpulan yang dikemukakan Andrew Gray, kurator herpetologi dari Museum Manchester setelah mempelajari katak-katak di Amerika Tengah. Katak pada umumnya tidak nyaman terpapar panas Matahari karena akan membuat tubuhnya kering. Namun, sejumlah spesies katak pohon dari Kosta Rika seringkali berdiam lama di bawah paparan cahaya Matahari tanpa mengalami gangguan.

"Meski demikian, sampai sekarang tak seorang pun yang benar-benar mengamatinya mengapa mereka melakukan hal tersebut," ujar Gray. Untuk itu, ia dan Mark Dickinson dari institut Sains Foton Universitas Manchester, Inggris melakukan pemindaian terhadap kulit katak tersebut.

Hasil pengukuran menggunakan Optical Coherence Tomography (OCT) menunjukkan bahwa katak mengandung pterorhodin, pigmen khusus yang memantulkan cahaya inframerah atau lawan dari melanin.

"Kami yakin katak-katak tersebut juga memantulkan sinar dan panas sebagai pengatur suhu tubuh agar tetap dingin. Permukaan kulitnya panas, namun tubuhnya dingin," ujar Gray. Selain berjemur, katak sejenis juga sering terlihat bertengger di atas bahan logam yang menyerap panas Matahari. Perilaku untu memanaskan kulit merupakan solusi membunuh jamur di kulitnya.

"Jamur chytrid hidup di kulit katak, namun pada suhu tertentu," ujar Gray. Penelitian yang dilakukan di laboratorium juga menunjukkan bahwa jamur tersebut mati jika suhu kulit katak dinaikkan.


[+/-] Selengkapnya...

 

Hujan Kali Ini

View blog reactions Your Site Title There are currently : visitors online. Powered by Online Count.

Senandung Kala Hujan

Free Devil ani MySpace Cursors at www.totallyfreecursors.com