F1 News

My BlogCatalog BlogRank
Tampilkan postingan dengan label Arkeologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arkeologi. Tampilkan semua postingan

Mumi 3500 Tahun Terserang Malaria


NAPLES - Dua mumi asal mesir yang berusia 3500 tahun diprediksi meninggal akibat terserang wabah malaria. Berdasarkan studi DNA pada mumi tersebut diketahui bahwa wabah malaria telah menjangkiti mesir kuno sejak ribuan tahun silam.

Seperti dilansir Discovery, Senin (27/10/2008) seorang ahli patologi, Andreas Nerlich dan koleganya dari Academic Teaching Hospital, Muenchen, Jerman meneliti sekira 91 sampel tulang mumi mesir yang berasal dari 3500 hingga 500 tahun sebelum masehi.

Penelitian yang menggunakan teknik biologi molekular tersebut menemukan dua mumi terserang parasit malaria, Plasmodium falciparum.

"Sekarang kami dapat memastikan jika wabah malaria telah menjangkiti masyarakat Mesir kuno. Spekulasi semacam itu sebenarnya telah diungkapkan dalam cerita yang ditulis sejarawan Yunani, Herodotus dan sejumlah fakta yang termuat dalam lembaran-lembaran papyrus,"kata Nerlich.

"Kami menemukan kedua mumi berasal dari dua wilayah yang berbeda, namun masih berada di dekat wilayah barat Thebes dan berasal dari kelas sosial yang tinggi," kata Nerlich. Penelitian ini juga menunjukkan mumi tersebut meninggal pada saat keduanya berusia 20 sampai 30 tahun.

Malaria dapat disebabkan empat jenis keluarga Plasmodium, Falciparum, malaria, ovale dan vivax. Plasmodium tersebut menginfeksi manusia melalui perantara nyamuk Anopheles. Dari keempat jenis plasmodium, jenis falciparum merupakan jenis yang sangat mematikan.

Sebelumnya, memang telah ada sebuah penelitian yang menyatakan malaria telah menjangkiti masyarakat kuno selain Mesir, Yunani. Laporan Hipocrates merupakan laporan klinis pertama tentang wabah Malaria tahun 400 SM.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Hiu Perawan Virginia Lahirkan Anak


RICHMOND, Senin - Sebagian ikan hiu ternyata memiliki sifat partenogenesis sehingga dapat melahirkan tanpa kawin. Contohnya seekor ikan hiu yang dipelihara di Virginia Aquarium & Marine Science Center.

Seperti dilaporkan Journal of Fish Biology, Jumat (10/10), seekor anak ikan hiu yang hidup di sana dipastikan tidak memiliki jejak genetik hiu jantan. Hiu tersebut berasal dari spesies ikan hiu berpunggung garis dari laut Atlantik.

Kelahiran tersebut diketahui saat hiu betina bernama Tidbit yang dipelihara di akuarium selama 8 tahun tewas setelah menjalani perawatan selama setahun. Saat dilakukan nekropsi (otopsi), para peneliti kaget karena di dalam perut ikan sepanjang 1,5 meter dan berat 47 kilogram itu ditemukan bayi hiu sepanjang 25 centimeter. Lebih mengagetkan karena tidak ada hiu jantan di akuarium tersebut.

Ini merupakan laporan kedua peristiwa reproduksi aseksual pada ikan hiu. Ikan hiu baru diketahui memiliki sifat partenogenesis dari seekor anak hiu kepala martil yang lahir di Kebun Binatang Omaha, Nebraska.

"Kemungkinan partenogenesis biasa pada ikan hiu jika populasinya turun begitu rendah sehingga ikan hiu betina kesulitan mencari pasangan," ujar Mahmood Shivij, ilmuwan dari Guy Harvey Research Institute, Universitas Florida.

Dengan perkawinan biasa, seekor induk ikan hiu dapat melahirkan lusinan keturunan. Namun, dengan partenogenesis hanya melahirkan satu ekor anak.

Selain ikan hiu, pertenogenesis ditemukan pada amfibi, reptil, dan burung. Namun, reproduksi aseksual ini lebih banyak ditemui pada hewan-hewan tak bertulang belakang.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Fosil Gigi Gajah Purba Ditemukan di Texas


CAPLEN, TEXAS, MiNGGU - Seorang pemilik resort di Texas, yang hancur akibat Badai Ike, menemukan fosil gigi gajah purba Kolombia, yang berusia 10.000 tahun, di antara reruntuhan. Gajah purba tersebut diperkirakan pernah hidup ini Amerika Utara.

Hal ini berawal ketika Dorothy Sisk, pemilik resort tersebut, bersama rekannya Jim Westgate, seorang ahli fosil dari Lamar University, mengunjungi resortnya setelah Badai Ike memporakporandakannya.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Dinosaurus Sebesar Bus Bernafas Seperti Burung


CHICAGO, Senin - Sejenis dinosaurus pemakan daging yang hidup sekitar 85 juta tahun lalu diduga bernafas layaknya burung yang hidup saat ini. Hasil penelitian terhadap fosilnya itu memperkuat keyakinan bahwa dinosaurus berkerabat dengan burung modern.

Penemuan tersebut juga memberi pengetahuan baru mengenai tahapan evolusi theropoda (jenis dinosaurus berkaki dua) menjadi burung. Banyak ilmuwan meyakini bahwa burung merupakan keturunan sejenis theropoda yang disebut maniraptor, pada 150 juta tahun lalu pada periode Jurassic, dan hidup sekitar 206 juta hingga 144 juta tahun lalu.


"Ini adalah salah satu bukti yang melengkapi data-data bahwa burung berkerabat dengan dinosaurus," ujar Jeffrey Wilson, paleontolog dari Universitas Michigan.

Dino terbang?

Disebut Aerosteon riocoloradensis, dinosaurus berkaki dua ini tingginya mencapai 2,5 meter dengan panjang tubuh mencapai 9 meter, sepanjang sebuah bus.

Bersama paleontolog dari Universitas Chicago, Paul Sereno dan lainnya, Wilson menemukan fosil kepala A. riocoloradensis dalam ekspedisi tahun 1996 di Argentina. Mereka kemudian membersihkan fosil tersebut lalu memindainya dengan komputer tomography.

Hasilnya, ditemukan lubang kecil di tulang belakangnya, tulang dada, dan tulang pinggul yang menuju pada rongga-rongga. Saat dinosaurus itu hidup, rongga-rongga tersebut sepertinya terhubung dengan otot-otot halus dan berisi udara. Nah, rongga-rongga ini mirip sekali dengan rongga yang ditemukan pada tulang burung masa kini.

Walau tidak ada bukti bahwa dinosaurus jenis itu memiliki bulu atau bisa terbang seperti burung saat hidup, namun setidaknya diketahui mereka bernafas seperti burung.

Burung memiliki paru-paru yang tidak membesar atau berkontraksi seperti paru-paru mamalia. Mereka memiliki kantung-kantung udara yang memompa udara ke paru-paru. Itu sebabnya burung bisa terbang lebih tinggi dibanding kelelawar, yang seperti mamalia lainnya terpaksa mengembangkan paru-parunya untuk mendapatkan proses bernafas yang efisien. Kantung-kantung udara ini juga membuat tulang burung lebih ringan sehingga terbang pun lebih mudah.

Beban yang ringan

Wilson dan rekan-rekannya menduga tulang yang berongga dan kemungkinan adanya kantung udara memiliki tujuan tertentu, misalnya membuat dinosaurus itu bisa bernafas dengan efisien.

Dengan bobot setara dengan seekor gajah, Aerosteon mungkin memanfaatkan rongga-rongga itu untuk mengusir panas dari tubuhnya. Keuntungan lain adalah untuk mengurangi beratnya, tanpa menganggu kekuatan.

Sebelumnya, fosil-fosil dari dinosaurus lain menunjukkan beberapa kemiripan dengan burung, meski belum ada bukti pasti adanya fosil dinosaurus pemakan daging yang memiliki kantung udara di tulang dadanya.

Sebagai contoh, penelitian sebelumnya menunjukkan dinosaurus maniraptor seperti velociraptor dan tyrannosaurus memiliki struktur tulang yang menggerakkan rusuk dan tulang dada saat bernafas, persis seperti pada burung.

Para peneliti juga menemukan kantung-kantung udara di tulang belakang sauropoda, dinosaurus pemakan tanaman yang memiliki leher dan ekor panjang. Mereka ini hidup pada periode Triassic akhir dan pertengahan Jurassic, sekitar 180 juta tahun lalu.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Dinosaurus Terkecil Hanya Seukuran Ayam


Pontianak, SENIN - Di antara reptil raksasa yang hidup di zaman purba, ternyata terdapat dinosaurus yang hanya seukuran ayam. Mungkin inilah dinosaurus terkecil yang pernah hidup di Amerika Utara jutaan tahun silam.

Spesies dinosaurus yang diberi nama Albertonykus borealis tersebut merupakan anggota kelompok dinosaurus yang disebut Alvarezsaurus. Kelompok satwa purba itu pernah mendiami pula kawasan Asia dan Amerika Selatan.

Tingginya hanya 70 centimeter dan merupakan kelompok Alvarezsaurus paling kecil yang pernah ditemukan. Keberadaannya diketahui dari lusinan fosil tulang lengan dan kaki yang ditemuakn di Alberta Kanada sejak tahun 2002. Namun, hasil analisisnya baru dirampungkan tahun ini dan diketahui bahwa usianya 70 juta tahun.

"Mereka benar-benar hewan yang aneh," ujar Nick Longrich, paleontolog dari Universitas Calgary Kanada yang bersama timnya melaporkan penemuan tersebut dalam jurnal Cretaceous Research edisi terbaru. Betapa tidak, hewan tersebut memiliki moncong yang kuat seperti penjepit, kaki ramping seperti burung, ekor panjang dan kaku, serta lengan pendek seperti T-rex.

Meski lengannya pendek, fungsinya mungkin tetap penting. Di ujung tangannya terdapat dua buah jari dan sebuah ibu jari yang panjang dan melengkung seperti cakar.

Para peneliti meduga dinosaurus tersebut memangsa serangga kecil. Hal ini terlihat dari gigi-giginya yang kecil. Ibu jarinya yang kuat dan tajam mungkin dipakai mengorek lubang pohon untuk mencari semut atau rayap.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Fosil Unta Kerdil Berusia Sejuta Tahun



DAMASKUS, MINGGU - Sejuta tahun yang lalu di Suriah mungkin hidup unta kerdil. Hal tersebut dapat dirunut dari temuan rahang unta purba yang ukurannya jauh lebih kecil daripada unta yang hidup saat ini.

"Fosil tersebut ditemukan bulan lalu di dekat Desa Khowm di daerah Palmyra, sekitar 240 kilometer timur laut Damaskus," kata Heba Al-Sakhel kepala Museum Nasional Suriah yang juga salah satu anggota arkeolog gabungan dari Suriah dan Swiss.

Ia mengatakan, rahang yang ditemukan sangat kecil dibandingkan unta normal sehingga patut diduga sebagai spesies baru. Meski demikian, perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk menjelaskan hal itu.

"Kita akan mencari tulang lainnya sebelum meyakinkan bahwa ini spesies baru," tambahnya.

Arkeolog lainnya dari Swiss, Jean Marie, mengatakan bahwa fosil yang ditemukan merupakan tulang unta tertua yang pernah digali di wilayah Timur Tengah, bahkan di seluruh dunia.

Penemuan tersebut mengejutkan karena tahun lalu di Suriah justru ditemukan fosil unta purba raksasa. Unta yang diperkirakan hidup 100.000 tahun lalu itu memiliki tinggi antara 3-4,5 meter atau dua kali lipat tinggi unta umumnya.

Dengan temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa kawasan gurun di Suriah mungkin menjadi habitat unta dari generasi ke generasi, dari unta kerdil hingga unta raksasa.

"Ini penemuan penting, dapat memberikan petunjuk penting tentang evolusi binatang," ujar Marie.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Australia Berharap Temukan Fosil Dinosaurus Spesies Baru


SIDNEY - Peneliti berharap temuan fosil tulang dinosaurus yang ditemukan beberapa hari lalu di Quensland, Australia merupakan spesies baru dinosaurus.

Seperti dilansir AFP, Rabu (17/9/2008), selama dua pekan penggalian di wilayah barat Australia itu, peneliti menemukan fosil tulang dinosaurus. Lokasi penemuan fosil sama dengan lokasi di mana tiga tahun lalu peneliti Australia menemukan fosil dinosaurus jenis herbivora yang dikenal dengan nama Matilda.

Ahli paleontologi Australian Age of Dinosaurs Institute David Elliot mengatakan, fosil temuan itu berukuran lebih kecil sekira 20 meter atau 60 kaki daripada Matilda. Fosil tulang tersebut diperkirakan berasal 98 juta tahun yang lalu.

"Penelitian tentang dinosaurus Australia memang belum cukup banyak, tetapi satwa Australia memang sejak lama dikenal berbeda dengan satwa lainnya di seluruh dunia," katanya.

Elliot mengatakan, seluruh dinosaurus yang ditemukan di Australia memiliki karakteritik yang sangat berbeda dari fosil lain yang ditemukan. Ia sangat yakin jika fosil yang ditemukan saat ini, pasti berasal dari Dinosaurus dengan spesies yang berbeda.

Selain itu, Elliot mengatakan, peneliti akan bekerja selama delapan bulan ke depan untuk memastikan spesies dinosaurus, serta kesimpulan hasil penggalian.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Ditemukan Mumi Wanita 1300 Tahun di Peru



LIMA - Sebuah mumi berhasil ditemukan di dekat kota Peru. Mumi ini diprediksi berjenis kelamin wanita dengan usia sekira 1300 tahun, atau hidup pada masa kebudayaan Wari.

"Ini merupakan penemuan yang cukup penting karena dengan demikian kami akan mendapatkan banyak petunjuk yang saling berhubungan, terkait dengan budaya kami di masa lalu," ujar arkeologis asal Peru isabel Flores, seperti dikutip melalui AFP, Rabu (27/8/2008).

Flores menyebut temuan ini sebagai kuburan multiple karena dalam satu lubang terdapat tiga kuburan lagi di dalamnya. Salah satu dari kuburan tersebut memiliki karakteristik topeng mumi yang sama dengan bentuk seorang wanita.

Kuburan yang dibundle menjadi satu itu terdiri dari beberapa mumi, yang diposisikan membungkuk dengan kondisi lutut bertemu dengan dagu.

Topeng mumi tersebut berbentuk seorang wanita dengan hidung mancung, bibir tipis, mata besar dengan selaput mata berwarna putih dan biji mata berwarna hitam. Mumi lainnya dipercaya sebagai mumi yang berusia anak-anak dan remaja. Masyarakat Wari merupakan masyarakat yang paling berpengaruh terhadap kebudayaan Andean yang hidup pada tahun 700 dan 1000.

"Mumi ini memang berjenis kelamin perempuan karena di sekitar kuburannya terdapat baju-baju dan perhiasan yang biasa dipakai seorang wanita pada zaman itu. Bahkan kami juga menemukan pajangan keramik dan seorang patung berbentuk anak yang dimunculkan sebagai teman sang wanita di alam baka.
ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Harimau Bertaring Pedang Pernah Diami Venezuela



CARACAS, MINGGU - Untuk pertama kalinya, fosil harimau bertaring pedang juga ditemukan di Venezuela. Fosil rahang dengan gigi taring yang panjang ditemukan tanpa sengaja saat para pekerja tambang tengah mengeduk jalur pipa minyak.

Perusahaan minyak milik pemerintah yang memiliki hak penambangan di wilayah tersebut kemudian mengontak Ascanio Rincon dari Institut Studi Ilmiah Venezuela. Setelah penggalian selama berbulan-bulan, tim paleontolog berhasil mengangkat fosil-fosil tersebut pada April 2007.

Kawasan tersebut mungkin pernah menjadi habitat hewan yang kemungkinan besar bertampang garang tersebut pada 1,8 juta tahun lalu. Sebab, tidak hanya satu fosil yang ditemukan melainkan dari enam ekor harimau.

Harimau bertaring pedang di Venezuela mungkin salah satu varietas spesies dari genus Homotherium yang pernah hidup di Amerika Utara. Panjang taringnya lebih pendek namun lebih tebal daripada harimau bertaring pedang lainnya.

"Deposit tersebut mungkin salah satu penemuan paling penting di Amerika Selatan dalam 60 tahun terakhir," ujar Ascanio Rincon yang pertama kali mengungkapkan penemuannya pada sebuah simposium ilmiah mengenai harimau bertaring pedang di Pocatello, Idaho, Mei lalu. Harimau bertaring pedang pernah ditemukan di Afrika, Eropa, Asia, dan Amerika Utara. Namun, baru kali ini di Amerika Selatan.

Penemuan ini juga memberikan informasi baru mengenai kehidupan liar di masa lalu. Rincon mengatakan penemuan ini menunjukkan bahwa harimau bertaring pedang dari genus Homotherium langsung menyebar dari utara ke selatan begitu daratan Benua Amerika menyatu.

Rincon berharap dapat kembali ke situs penggalian untuk mempelajari kemungkinan deposit fosil lainnya. Namun, pemerintah tanpa alasan belum mengizinkan para peneliti untuk kembali melakukan aktivitas di situs yang terletak di Monagas, bagian timur Venezuela yang dikenal kaya kandungan minyak.
ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Fosil Murah dari eBay Itu Ternyata Spesies Baru



JAKARTA, KAMIS - Seorang ilmuwan yang membeli secuplik fosil serangga dalam resin yang membatu (amber) tak pernah menyangka bahwa hewan tersebut spesies baru. Apalagi, ia hanya membelinya seharga 20 Poundsterling atau sekitar Rp320.000.

Dr Richard Harrington, wakil presiden Masyarakat Entomologi Kerajaan Inggris membeli fosil tersebut dari seseorang di Lithuania. Melihat keunikannya, ia kemudian mengirimkannya kepada koleganya, Profesor Ole heie, pakar fosil serangga di Denmark untuk dipelajari.

Setelah diidentifikasi, baru diketahui bahwa serangga tersebut merupakan spesies baru meskipun telah punah saat ini. Serangga tersebut kemudian diberi nama ilmiah Mindarus harringtoni.

"Ia menemukan bahwa serangga tersebut belum pernah dideskripsikan sebelumnya," ujar Dr. Harrington. Serangga tersebut memiliki panjang tubuh antara 3-4 cm dan diperkirakan telah teperangkap dalam amber selama 40-50 juta tahun lalu.

Selama hidupnya serangga tersebut memangsa tumbuh-tumbuhan jenis Pinites succinifer. Tumbuhan tersebut juga sudah punah saat ini.
ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Pemakaman Kuno Ditemukan di Sahara

WASHINGTON, sABTU — Seorang perempuan bertubuh kecil dan dua anak dibaringkan di hamparan bunga saat meninggal 5.000 tahun lalu di lokasi yang saat ini menjadi Gurun Sahara nan tandus. Lengan kecil anak-anak itu masih menggandeng sang perempuan dalam pelukan abadi saat para peneliti menemukan tulang-belulang mereka di makam yang menjadi bukti adanya dua peradaban yang pernah ada di sana saat wilayah tersebut masih hijau.

Paul Sereno dari Universitas Chicago dan rekan-rekannya sedang mencari fosil dinosaurus di Niger, Afrika, saat mereka menemukan makam itu. "Bagian dari penemuan adalah mendapatkan hal-hal yang tidak pernah Anda duga," katanya.

Sekitar 200 makam manusia ditemukan selama penggalian di lokasi tersebut, pada 2005 hingga 2006. Didapatkan juga tulang-belulang hewan, ikan besar, dan buaya. "Ke manapun Anda menengok, Anda akan mendapatkan tulang-tulang hewan yang tidak hidup di gurun," ujar Sereno. "Kita sedang berada di tempat yang dahulu hijau."

Kuburan itu tersibak oleh angin gurun yang panas. Lokasinya diduga merupakan bekas danau yang dahulu dihuni orang. Ia berada di wilayah yang disebut Gobero, tersembunyi di Gurun Tenere yang ganas, yang oleh bangsa pengembara Tuareg disebut sebagai "gurun di dalam gurun".

Sisa-sisa manusia itu berasal dari dua populasi berbeda yang hidup di sana saat musim basah. Para peneliti menggunakan penanggalan radio karbon untuk menentukan kapan orang-orang itu hidup di sana. Mereka mendapati, tulang termuda usianya sekitar 1.000 tahun sebelum pembangunan piramid di Mesir.

Adapun kelompok pertama yang tinggal di sana disebut bangsa Kiffian. Mereka berburu hewan dan ikan menggunakan tombak. Mereka hidup saat Sahara berada dalam kondisi paling basah, antara 10.000 dan 8.000 tahun lalu. Dikatakan para peneliti, warga Kiffian berpostur tinggi, kadang lebih dari 1,8 meter.

Kelompok kedua adalah orang Tenerian yang hidup di wilayah itu antara 7.000 dan 4.500 tahun lalu. Mereka lebih kecil dan hidup dengan berburu, mencari ikan, dan memelihara ternak.

Makam-makam mereka sering kali berisi perhiasan atau benda-benda ritual. Jenazah seorang gadis misalnya, berhias gelang yang diukir dari gigi kuda nil. Sementara seorang pria Tenerian dewasa dimakamkan dengan kepala di atas bejana tanah lempung, dan pria lain menggunakan tempurung kura-kura sebagai bantal.

Sisa-sisa serbuk sari menunjukkan, perempuan dan dua anak itu dimakamkan di atas hamparan bunga. "Pada awalnya sulit membayangkan dua kelompok yang berbeda memakamkan warganya di tempat yang sama," ujar anggota tim Chris Stojanowski, seorang bioarkeolog dari Universitas Negeri Arizona.

Stojanowski mengatakan, tulang paha orang-orang Kiffian menunjukkan mereka memiliki otot kaki yang kuat, yang memunculkan dugaan mereka makan banyak protein dan memiliki gaya hidup aktif. "Mereka sepertinya sangat sehat. Sangat sulit tumbuh sebesar itu dengan otot kuat tanpa nutrisi yang baik," paparnya.

Di lain pihak, tulang pria Tenerian menunjukkan mereka kurang tegap dan mungkin hanya memburu ikan dan hewan yang lebih kecil dengan peralatan berburu yang lebih maju, ungkap Stojanowski.

Helene Jousse, seorang arkeolog dari Museum Sejarah Alam di Wina, Austria, melaporkan bahwa tulang hewan yang dijumpai di sana sejenis dengan tulang hewan-hewan yang saat ini hidup di Serengeti, Kenya, seperti gajah, jerapah, dan babi liar.



ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Bayi Keluarga Tutankhamun Diuji DNA

CAIRO, Rabu - Para ilmuwan Mesir sedang melakukan tes DNA terhadap mayat bayi-bayi yang lahir dalam keadaan mati dari makam Firaun Tutankhamun guna mengidentifikasi ibu dan nenek mereka, yang bisa jadi adalah Ratu Nefertiti.

Arkeolog Inggris, Howard Carter, menemukan mumi bayi-bayi itu saat ia membongkar makam Tutankhamun tahun 1922. Para arkeolog menduga mereka adalah anak-anak dari Firaun muda itu, tapi ibu mereka belum diidentifikasi.

Banyak peneliti yakin ibu mereka adalah Ankhesenamun, satu-satunya istri raja muda itu yang diketahui. Ankhesenamun adalah putri Nefertiti yang terkenal karena kekuasaan dan kecantikan.

"Untuk pertama kalinya kita akan bisa mengidentifikasi keluarga Raja Tut," ujar Zahi Hawass, pimpinan Dewan Tinggi Purbakala Mesir. "Dan ini bisa membawa kita pada penemuan mumi Nefertiti."

Tutankhamun yang lahir tahun 1341 sebelum Masehi wafat kurang dari satu dekade setelah dinobatkan sebagai raja pada usia delapan atau sembilan tahun.

Nefertiti memiliki enam putri hasil pernikahannya dengan Firaun Akhenaten, penguasa yang meninggalkan dewa-dewa tradisional untuk memeluk satu Tuhan selama pemerintahannya tahun 1350 hingga 1334 sebelum Masehi. Namun, mumi ratu itu tidak pernah diidentifikasikan.

Uji DNA dan CT-scan yang dilakukan di Universitas Cairo akan selesai Desember mendatang. Ini adalah bagian dari usaha Mesir untuk mengidentifikasi semua mumi kerajaan dengan DNA dan CT-scan. Tutankhamun adalah salah satu mumi pertama yang dipelajari dengan teknologi tersebut pada tahun 2005.



ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Kucing Zaman Purba Ditemukan di Venezuela

CARACAS - Tim peneliti kandungan minyak Venezuela berhasil menemukan fosil kucing raksasa bertaring tajam di wilayah tenggara Caracas.

"Ini merupakan temuan paling penting di Amerika Selatan selama kurun waktu 60 tahun," ujar paleontologis dari Institut Sains Venezuela Ascanio Rincon, seperti dikutip melalui AFP, Selasa (12/8/2008).

Rincon memaparkan bahwa fosil-fosil tersebut ditemukan bersama beberapa fosil hewan lainnya seperti harimau kumbang, serigala, onta, burung gagak, bebek dan kuda. Semua hewan tersebut hidup pada 1,8 juta tahun lalu. Para tim menemukan fosil tersebut secara tidak sengaja saat mereka sedang mencari kemungkinan kandungan energi minyak di pusat wilayah Monages sejak tahun 2006.

"Penemuan kami yang paling penting adalah rangka tengkorak yang masih lengkap dari kucing raksasa zaman purba, yang dinamakan Homotherium, karena hewan jenis ini belum pernah ditemukan di wilayah Amerika Selatan. Bagi kami penemuan ini merupakan sejarah dan membuka tirai baru akan kehidupan zaman purba di wilayah ini," papar Rincon.

Kucing raksasa yang memiliki taring tajam berukuran lebih kecil dari harimau dan tubuh yang mirip dengan Hyena, dipercaya pernah hidup di wilayah Afrika, Eurasia dan Amerika Utara antara lima juta hingga 10 ribu tahun lalu. Hewan ini sempat mengalami kepunahan pada 500 ribu tahun lalu.

ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Nenek Moyang T-Rex Ditemukan di Polandia

WARSAW - Paleontologis berhasil menemukan fosil dinosaurus yang belum pernah ada di dunia. Para ahli mengklaim fosil tersebut sebagai nenek moyang Tyrannosaurus Rex.

"Dinosaurus pemangsa itu kami sebut 'the Dragon' dan diprediksi hidup pada 200 juta tahun lalu," ujar kepala tim Dr Tomasz Sulej dari Polish Science Academy, seperti dikutip melalui Reuters, Senin (4/8/2008).

The Dragon memiliki ukuran panjang lima meter dan berjalan di atas dua kaki. Ia memiliki gigi-gigi yang tajam dengan panjang sekira 7 sentimeter.


"Hewan ini merupakan jenis baru dari dinosaurus yang belum pernah ditemukan. Tidak ada orang yang memperkirakan bahwa hewan jenis ini mampu hidup pada zaman tersebut. Hal ini memberikan kami pengetahuan baru tentang seluruh evolusi kehidupan dari T-Rex," ujar Sulej.

Fosil ini berhasil ditemukan dari penggalian di perkampungan Lisowice, yang bertempat 200 kilometer dari Warsaw.

Para paleontologis itu akan terus meneliti tulang belulang dinosaurus yang mereka temukan sebelum mereka memberikan nama untuk dinosaurus tersebut.

Dalam penggalian yang sama, para peneliti juga menemukan dicynodon, sebuah reptil yang disebut-sebut sebagai leluhur mamalia. Herbivorous Dicynodon merupakan hewan mamalia yang memiliki ukuran lebih besar daripada kuda nil (hipopotamus).
ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Fosil "Nessie" Ditemukan di Skotlandia

"Jejak" dinosaurus berusia 150 juta tahun ditemukan di tepian Loch Ness, Skotlandia --namun jejak berupa fosil tersebut tidak berasal dari monster legendaris yang menghuni danau itu, demikian diungkapkan para ilmuwan hari Rabu lalu (16/7).

Fosil yang berupa empat tulang belakang lengkap dengan syaraf dan urat nadinya itu dipercaya merupakan bagian dari tubuh plesiosaurus, reptil pemakan daging yang menghuni lautan dan memiliki leher panjang. Ia ditemukan oleh Gerald McSorley, 67, di perairan dangkal tepi loch (loch dalam bahasa setempat berarti danau).

McSorley, yang pensiunan itu menyerahkan fosil ke Museum Nasional Skotlandia, yang kemudian mempelajari satu-satunya fosil plesiosaurus dari negara itu. Adapun kondisi dan penemuan fosil dari jaman Jurassic tersebut menjadi pertanyaan besar. "Asal-usul fosil ini masih sangat kabur... apakah ia tergeletak di sini karena kesengajaan atau memang ada sejak dahulu kala," ungkap juru bicara museum, Hannah Dolby.

"Penelitian pada materi fosil menunjukkan bahwa ia berasal dari lingkungan laut, bukan lingkungan air tawar seperti Loch Ness," kata Dolby. "Entah bagaimana plesiosaurus yang binatang laut itu bisa sampai sini," lanjutnya.

Nessie, Sang Monster Loch Ness

Plesiosaurus yang hidup antara 200 juta hingga 65 juta tahun lalu, yakni pada masa Jurassic dan Cretaceous, memang memiliki kemiripan dengan makhluk yang dipercaya sebagai Nessie, sang monster Loch Ness. Namun para ilmuwan menekankan bahwa fosil itu bukan Nessie --seandainya Nessie memang ada-- karena Loch Ness belum terbentuk hingga akhir Jaman Es, sekitar 12.000 tahun lalu.


Seperti diketahui, legenda tentang keberadaan monster raksasa yang menghuni Loch Ness telah menjadi cerita rakyat sejak berabad-abad lalu. Mereka yang mengaku pernah melihatnya melukiskan Nessie sebagai binatang seperti naga berwarna hitam dengan tubuh besar dan leher panjang.

Berbagai ekspedisi telah dilakukan untuk menemukan monster itu, termasuk menggunakan radar dan kamera bawah air modern. Sampai kini bahkan ada beberapa kamera yang dipasang di kedalaman Loch Ness untuk mencari Nessie. Tidak terhitung pula penyelaman-penyelaman yang dilakukan untuk tujuan sama. Namun demikian, yang ada hanyalah foto-foto amatir dari para pengagum Nessie yang diragukan keasliannya.

Yang jelas bagi mereka yang percaya Nessie, penemuan fosil itu merupakan bukti keberadaan monster tersebut. McSorley sang penemu fosil sampai berkata, "Saya selalu percaya akan keberadaan monster Loch Ness, dan tulang ini menjadi buktinya."




ENGLISH VERSION

[+/-] Selengkapnya...

Ilmuwan Jepang dan Mongolia Temukan Fosil Tarbosaurus


TOKYO - Ilmuwan Jepang dan Mongolia belum lama ini sukses menemukan fosil Tarbosaurus di Gurun Gobi yang diperkirakan berusia 70 juta tahun.

Fosil tersebut saat ini dipamerkan di Hayashibara Museum of Natural Science, Okayama, Jepang. Juru Bicara Museum Takuji Yokoyama mengatakan, fosil itu merupakan Tarbosaurus muda yang diperkirkan mati pada usia lima tahun.

"Kami merasa sangat beruntung bisa menemukan fosil Tarbosaurus muda lengkap dengan seluruh bagian-bagian pentingnya. Yang kurang hanya bagian tulang leher dan ujung tulang ekornya," ujarnya. Apa yang ditemukan ilmuwan Jepang dan Mongolia ini sangat penting untuk mengetahui kehidupan dinosaurus, khususnya Tarbosaurus yang merupakan binatang pemakan daging seperti halnya Tyranosaurus.

Dia menambahkan, tinggi fosil Tarbosaurus muda yang ditemukan sekira dua meter. Sementara tinggi Tarbosaurus dewasa bisa mencapai 12 meter. Belum diketahui jenis kelamin binatang purba yang konon musnah akibat tabrakan meteor itu. Yokoyama mengklaim temuan tersebut merupakan terobosan besar dalam dunia ilmu pengetahuan, mengingat kerangka lengkap dinosaurus muda nyaris tidak pernah ditemukan utuh.

"Biasanya rangka dinosaurus muda hancur akibat pelapukan udara atau akibat serangan dari predator yang lain," imbuhnya. Tidak mudah bagi para ilmuwan untuk menemukan fosil berharga itu. Menurut Yokoyama, awal pencarian fosil Tarbosaurus dimulai pada Agustus 2006. Dalam menjalankan misinya, ilmuwan Jepang bergabung dengan ilmuwan di Mongolian Academy of Scientist.

?Dibutuhkan waktu setidaknya dua tahun untuk merelokasi fosil tersebut. Kami berharap temuan ini dapat mengungkap proses perkembangan dan pertumbuhan dinosaurus,? tutur Yokoyama seraya menjelaskan penggalian di Gurun Gobi kali pertama dilakukan ilmuwan Jepang pada 1993.English Version!

[+/-] Selengkapnya...

JASAD FIR'AUN YANG AWET, TELAAH ILMU PENGETAHUAN

Para ilmuwan Mesir dan ilmuwan Barat (kalau tidak salah kami dari Amerika Serikat) berkolaborasi mengadakan penelitian mengenai struktur fisik dari jasad Fir’aun Laknatullah atau dikenal sebagai Ramses II. Jasad Fir’aun ditemukan oleh arkeolog di dalam Piramida. Jasad yang sudah ribuan tahun masih utuh dengan balutan kulit serta menggambarkan guratan wajah seseorang yang mengalami penderitaan yang sangat dengan mulut ternganga.

Para ilmuwan berselisih pendapat mengenai jasad Fir’aun. Para ilmuwan Mesir berkesimpulan bahwa Fir’aun mati tenggelam sesuai yang tersebut di dalam Al-Qur’anul Karim. Sedangkan para ilmuwan Barat menyimpulkan, pada saat penenggelaman pasukannya di Laut Merah (dinamakan Laut Merah oleh karena keberadaan ganggang merah yang membuat warna laut menjadi merah), Fir’aun sedang duduk menyaksikan dari pinggir pantai. Mereka berkesimpulan bahwa jasad yang ada di depan mereka ini memang tidak pernah mengalami penenggelaman.

Dengan menggunakan bantuan alat foto isotop nuklir, maka didapatlah sturktur kimia dan biologi yang terdapat di dalam jasad Fir’aun. Didapatlah kecocokan dengan stuktur ganggang yang biasanya terdapat di Laut Merah. Perdebatan sengit terjadi, ilmuwan Barat bersikeras bahwa untuk mengawetkan Fir’aun bahan dasarnya berasal dari ganggang tersebut. Setelah diteliti lebih lanjut, tidak ditemukan struktur ganggang tersebut terhadap Mummy lainnya.

Pada jasad Fir'aun terdapat ciri-ciri bagaikan orang yang tenggelam, seperti tersedak, paru-paru yang membengkak dan perut yang membesar.

Maka benarlah khabar berita yang disampaikan di dalam Al-qur’anul Karim bahwa Fir’aun memang ditenggelamkan oleh ALLAH SWT. Shadaqallaahu wa Shadaqta Ya Rasuulullah! (Maha benar ALLAH dan benar juga apa yang disampaikan oleh Engkau Ya Rasul ALLAH)

Demikianlah Nabiyullah Musa a.s dan kaumnya berhasil melewati lautan. Sementara itu, Fir’aun sampai ke tepi laut yang berlawanan. Ia menyaksikan mukjizat ini, Ia melihat lautan terdapat jalan kering yang terbelah menjadi dua. Fir’aun saat itu merasakan ketakutan tetapi lagi-lagi, keras kepalanya membuyarkan akal sehatnya.

Nabiyullah Musa a.s sesaat setelah sampai di pinggir pantai, menoleh kebelakang dan ingin memukulkan tongkatnya ke lautan tersebut agar tertutup kembali. Sedangkan ALLAH Ta’ala telah berkehendak untuk menenggelamkan Fir’aun. Oleh karena itu, Nabiyullah Musa a.s diperintahkan untuk membiarkan lautan seperti semula. ALLAH SWT mewahyukan kepadanya :

“Dan biarlah laut itu tetap terbelah. Sesungguhnya mereka adalah tentara yang akan ditenggelamkan,” (Q.S Ad-Dukhan : 24)



Fir’aun bersama bala tentaranya sampai di tengah lautan, Ia sudah melewati separuh jarak dan akan sampai di tepi lainnya. Kemudian ALLAH Ta’ala memerintahkan Malaikat Jibril a.s yang kemudian digerakkanlah olehnya ombak sehingga ombak tersebut menerpa Fir’aun dan tentaranya tenggelam ke dalam lautan.



Ketika tenggelam, Fir’aun melihat tempatnya di neraka. Kini ia baru sadar dan tabir telah terkuak di depannya. Fir’aun telah menjelang ajal. Ia lalu menyadari kebenaran Risalah yang dibawakan oleh Nabiyullah Musa a.s sesuai yang terdapat di dalam Q.S Yunus : 90, yaitu :

“Hingga bila fir’aun itu hampir tenggelam berkatalah dia : ‘Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada ALLAH).”



Taubat Fir’aun tidak berguna dan jauh dari penerimaan, taubat yang disampaikan pada saat ajal sudah sampai pada kerongkongan ketika ia menyaksikan azab dan menjelang kematiannya. Lalu Malaikat Jibril a.s berkata kepadanya sebagaimana di dalam Q.S Yunus : 91 :

“Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Yakni, tiada taubat baginya. Sungguh telah usai masa taubat baginya dan binasalah ia.



Selesailah urusannya dan tiadalah keselamatan baginya. Yang selamat hanyalah tubuhnya dan dilemparkan oleh ombak ke tepian pantai, menjadi bukti kebesaran ALLAH SWT bagi orang-orang yang hidup sesudahnya. Sesuai Q.S Yunus : 92 :

“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi peringatan bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.”



Apa yang dialami oleh Fir’aun – Ramses II sebagaimana yang dapat dilihat di Museum Kairo, Mesir. Jasadnya mengering oleh sebab dibalsem dan dimasukkan ke dalam kotak serta dibalut oleh lilitan kain ke seluruh tubuhnya. Meskipun jasadnya utuh, akan tetapi jaringan sel yang terdapat di tubuhnya rusak dan mati. Lain halnya dengan jasad orang-orang pilihan yang dikasihi ALLAH SWT, seperti Anbiya-i wal Mursalin serta para Shalihin, meskipun telah dikubur di dalam tanah mencapai hitungan ratusan hingga ribuan tahun, tetaplah layaknya bagaikan orang yang sedang tertidur. Jaringan selnya masih utuh seperti sediakala.

Wallaahu a’lam Bish


Mohon maaf bila ada yang salah dari kami yang faqir.


















Selengkapnya....!

[+/-] Selengkapnya...

Dinosaurus Baru Kanada Masih Misterius

VICTORIA, JUMAT - Seorang calon geologis tersandung sekumpulan tulang di utara British Columbia lebih dari tiga dekade lalu. Ia tak sadar bahwa tulang belulang tersebut mungkin berasal dari seekor dinosaurus jenis baru. Nah, yang menarik, identitas dino itu sampai sekarang masih misterius.

Kumpulan tulang yang dikumpulkan meliputi tujuh rahang, lengan, dan tulang kaki, serta fragmen tengkorak. Berdasarkan bentuk dan ukuran tulang, para paleontolog menduga pemiliknya adalah dinosaurus ukuran kecil hingga sedang, mungkin seekor pachycephalosaurus atau ornithopoda. Tapi spesimen ini hanya disebut dinosaurus Sustut karena ditemukan di Sustut Basin di Utara-Tengah British Columbia, Kanada.

Kenny Larsen menemukan fosil itu pada 1971 ketika mencari thorium, sejenis elemen radioaktif. Saat bekerja di lapangan, instrumennya menangkap tingkat radiasi tertentu, yang ternyata berasal dari tulang. Larsen kemudian mengumpulkan tulang-tulang yang terpisah itu dan mendonasikannya kepada Dalhousie University di Halifax, Nova Scotia, pada 2004.

Tulang-tulang itu kemudian dipelajari oleh mahasiswi Victoria Arbour yang segera menyadari bahwa barang itu adalah temuan langka. Tulang-tulang itu terawetkan dengan baik dan merupakan spesimen dinosaurus paling lengkap yang pernah ditemukan di British Columbia hingga saat ini.

Sayang catatan lapangan Larsen hilang, sehingga para peneliti sulit menemukan lokasi persis kuburan fosil itu, dan membuat fosil-fosil tersebut sulit diketahui usianya. Namun berdasarkan batu yang menempel pada beberapa fragmen, Arbour dan koleganya menduga spesimen itu berumur sekitar 70 juta tahun lalu, tepatnya dari jaman Cretaceous akhir.

Fragmen tulang mengidentifikasikan bahwa fosil-fosil tersebut berasal dari dinosaurus kecil pemakan tumbuhan yang berkaki dua. Beberapa tulangnya mirip pachycephalosaurus, yang berlari dengan dua kaki, dan memiliki tengkorak berbentuk kubah. Sementara beberapa bagian lagi mirip ornithopoda, pemakan rumput yang berjalan dengan dua kaki dan memiliki moncong bertanduk.

“Ada beberapa kemiripan dengan dua jenis dinosaurus lain meskipun ada pula tulang lengan yang belum pernah kita lihat sebelumnya,” kata Arbour. “Dinosaurus Sustut mungkin merupakan spesies baru tapi kita tidak tahu pasti sampai fosil-fosil lain ditemukan.”

[+/-] Selengkapnya...

Manusia Neanderthal Taklukkan Mammoth dengan Batu



Pontianak, kamis - Puluhan artefak batu yang sisi-sisinya tajam sepeti pisau mungkin senjata andalan manusia Neanderthal yang hidup puluhan ribu tahun lalu. Tidak mustahil kalau mereka menggunakannya untuk menaklukkan mammoth, badak berambut, atau kuda saat itu.

Temuan ini semakin menguatkan pendapat bahwa mereka sepintar manusia modern meski hidup ratusan ribu tahun lebih dulu. Manusia Neanderthal hidup di daratan Eropa dan menyebar hingga ke sebagian Asia sejak 230.000 tahun lalu. Namun, berdasarkan temuan fosil, mereka menghilang sejak 20.000 tahun lalu atau beberapa ribu tahun sejak manusia modern berkembang.

Peralatan-peralatan purba tersebut ditemukan di situs arkeologi yang disebut Beedings di West Sussex, Inggris sejak awal 1900-an. Namun, selama bertahun-tahun artefak-artefak tersebut tak diminati karena sempat dianggap sebagai artefak palsu.

Hasil analisis terkini yang dilakukan Roger Jacobi dari Museum Inggris menunjukkan bahwa peralatan tersebut mungkin benar milik manusia Neanderthal. Dalam proyek penelitian Ancient Human Occupation of Britain yang didanai English Heritage itu ia berhasil membuktikan bahwa peralatan-peralatan tersebut mirip dengan peralatan sejenis berusia 35.000-40.000 tahun yang ditemukan di utara Eropa.

Temuan Jacobi didukung Dr Matthew Pope, arkeolog dari University College London yang baru-baru melakukan penggalian di situs yang sama. Pope dan timnya menemukan peralatan lain di lapisan lebih dalam yang juga diperkirakan peninggalan manusia Nenaderthal.

"Penggalian yang kami lakukan membuktikan bahwa material yang ditemukan itu benar asli dan berasal dari pecahan batuan lokal," ujar Pope. Kebanyakan peralatan berukuran panjang dan meruncing sehingga diperkirakan sebagai ujung tombak.

Pada peneltian berikutnya, Pope berharap dapat mempelajari jejak Neanderthal di bagian tenggara Inggris. Jika artefak yang ditemukan mirip di sejumlah lokasi penggalian dapat dipastikan bahwa peradaban manusia Neanderthal tidak kalah dengan makhluk tercerdas, Homo sapiens.


[+/-] Selengkapnya...

Ditemukan Fosil Makhluk Berkaki Empat Paling Primitif



WASHINGTON, KAMIS - Para ilmuwan menemukan fosil hewan berkaki empat paling primitif di Latvia. Fosil makhluk yang hidup 365 juta tahun lalu itu mungkin dapat menambah informasi untuk mengungkap hubungan kekerabatan antara ikan dan hewan yang hidup di daratan.

Tulang kaki dan jari-jarinya tidak ditemukan, tapi dari struktur tulangnya dapat dipastikan sebagai hewan berkaki empat. Sebab, selain tengkorak, ditemukan pula tulang bahu dan tulang panggul. Hewan yang diberi nama Ventastega curonica itu diperkirakan hidup di air dangkal. Ia mungkin lebih banyak menggunakan keempat kakinya untuk berjalan di dasar perairan daripada berenang.

"Jika Anda melihatnya dari jauh, ia mirip aligator kecil, namun jika Anda melihat dari dekat akan melihat sirip di bagian ekornya," ujar Per Ahlberg, profesor biologi evolusi di Universitas Uppsala, Swedia, yang melaporkannya dalam jurnal Nature edisi terbaru.

Meski hidup di air, ia lebih mirip tetrapoda daripada ikan. Hewan tersebut mungkin hidup di perairan dangkal dan lebih suka merayap di dasar. Tetrapoda selama ini diyakini sebagai saudara tua amfibi, burung, dan mamalia. Namun, para ilmuwan tidak yakin hewan tersebut merupakan transisi antara ikan dan hewan darat. Meski struktur tubuhnya paling primitif, ada hewan lain yang lebih tua namun dengan struktur yang lebih mendekati hewan darat. Ventastega diperkirakan hanya salah satu tetrapoda yang tidak melanjutkan cabang kekerabatannya.

Sampai saat ini, para ilmuwan yakin sejumlah makhluk darat memiliki nenek moyang yang hidup di air. Namun, masih sedikit informasi bagaimana makhluk air mulai berkembang di darat. Perubahan lingkungan, seperti perairan yang mendangkal atau menurunnya pasokan makanan mungkin salah satu faktor yang mendorong kelompok makhluk air beradaptasi dengan lingkungan daratan.


[+/-] Selengkapnya...

 

Hujan Kali Ini

View blog reactions Your Site Title There are currently : visitors online. Powered by Online Count.

Senandung Kala Hujan

Free Devil ani MySpace Cursors at www.totallyfreecursors.com