F1 News

My BlogCatalog BlogRank
Tampilkan postingan dengan label ASTRONOMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ASTRONOMI. Tampilkan semua postingan

Alat Pengubah Urine Jadi Air Minum Dikembangkan


HOUSTON - Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengembangkan sebuah alat yang dapat meproduksi ulang urine menjadi segelas air manis. Alat tersebut kini tengah di uji coba pada enam astronot lainnya untuk dibawa ke Bumi.

Dana sebanyak USD154 juta disediakan untuk mengembangkan sistem daur ulang ini. Jika berhasil, maka para astronot tidak akan kesulitan lagi memenuhi kebutuhan air minum mereka.

"Fantastik, kami membuat sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya," ujar Komandan Stasiun Luar Angkasa NASA Michael Fincke, seperti yang di lansir Associated Press, Minggu (23/11/2008).

"Alat ini akan berguna bagi manusia di Bumi," sambungnya lagi.

Para astronot berharap paling cepat dalam tiga tahun ke depan alat ini dapat digunakan. Mereka juga berharap alat ini akan berhasil jika nanti dibawa ke Bumi. Sampai saat ini, processor penyulingan urine itu belum dapat bekerja maksimal, baru dapat memproduksi air hanya dalam waktu dua jam saja.

Sebenarnya, alat pengubah urine menjadi air minum ini merupakan bagian dari perombakan besar-besaran yang dilakukan NASA agar stasiun luar angkasa mereka nampak mewah. Selain urine, mereka akan membuat air minum dari bahan bekas air AC.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Foto Pertama Planet di Luar Tata Surya


Gambar pertama dari sebuah sebuah planet di luar tata surya berhasil ditangkap oleh Teleskop Ruang Angkasa Hubble. Gambar tersebut (kiri) menunjukkan planet yang dikenal sebagai Fomalhaut b dan berukuran sebesar planet Jupiter.

Planet ini tertutup cakram debu yang mengelilingi bintang Fomalhaut. Keberadaan planet itu telah diketahui sejak tahun 2005 berdasarkan tarikan gravitasi di sekitarnya.

Namun, ini untuk pertama kalinya Fomalhaut b berhasil diabadikan gambarnya. Meskipun menggunakan koronograph Hubble untuk mengurangi kilauan cahaya bintang, planet itu tetap tak tertangkap oleh teleskop apabila tak berada di orbit yang luas.

Dr Paul Kalas, astronom dari University of California di Berkeley, mengaku kagum dengan penemuan yang dipimpinnya itu. "Sungguh pengalaman mengagumkan dapat mengamati planet yang tak terlihat sebelumnya."

Fomalhaut terletak sekitar 200 juta tahun cahaya dan 16 kali lebih terang cahayanya dari Matahari. Fomalhaut diperkirakan akan terbakar dalam waktu sekitar 1 miliar tahun sehingga dianggap sebagai bintang yang berusia pendek.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

NASA Temukan Tata Surya Baru Berisi 3 Planet


WASHINGTON, JUMAT - Selain berhasil memotret planet asing di luar tata surya untuk pertama kalinya, para ilmuwan NASA juga menemukan tiga planet baru yang mengelilingi satu bintang. Namun, ketiganya terlalu jauh sehingga tidak dapat direkam secara langsung.

"Setiap planet ekstrasolar terdeteksi pada jarak sangat jauh sehingga hanya dapat diketahui dari gelombang di grafik pengamatan," ujar Bruce Macintosh, pakar astrofisika dari Laboratorium Nasional Lawrence Livermore, California, AS.

Trio planet itu mengorbit bintang HR 8799 yang berada di konstelasi Pegasus, 130 tahun cahaya dari Bumi (1 tahun cahaya setara dengan 9,46 triliun kilometer). Bintang yang menjadi pusat tata surya itu mirip Matahari dengan ukuran 1,5 kali lebih besar.

Masing-masing planet terletak pada jarak 24, 38, dan 68 unit astronomi dari bintangnya (1 AU setara dengan 150 juta kilometer). Dua planet yang terdekat dengan bintang berukuran 10 kali massa Planet Jupiter dan yang terjauh 7 kali massa Planet Jupiter.

Planet-planet tersebut diperkirakan baru berumur 60 juta tahun sehingga bisa dikatakan sangat muda dalam standar astronomi. Bagian permukaannya masih sangat panas dengan bola-bola api yang masih sering terbentuk di atasnya. Sebagai perbandingan, Bumi telah berumur 4,5 miliar tahun.

Orbit ketiga planet termasuk berada di luar seperti Jupiter mengelilingi Matahari. Jika tata surya tersebut memiliki sifat seperti tata surya kita, ada kemungkinan planet lain di orbit lebih dalam yang berukuran lebih kecil.

"Saya kira masih besar peluangnya menemukan planet lain di sistem tata surya tersebut," ujar Macintosh. Para astronom menyatakan target berikutnya adalah mencari planet yang memiliki sifat seperti Bumi.

Penemuan tata surya seperti Matahari yang berpusat di bintang HR 8799 merupakan petunjuk untuk mencari planet seperti Bumi. Yang sering menjadi masalah adalah planet padat seperti Bumi lebih sulit dideteksi dan lebih dekat dengan bintangnya sehingga kalah dengan pancaran cahaya bintang.

Penemuan trio planet diumumkan, Kamis (13/11) bersamaan dengan publikasi foto pertama planet ekstasolar yang dimulat jurnal Science teranyar. NASA mengkalin untuk pertama kalinya memotret planet Fomalhaut b yang mengelilingi bintang bernama Fomalhaut dengan gabungan foto teleskop ruang angkasa Hubble dan sejumlah teleskop terestrial.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Chandrayaan 1 Masuki Orbit Bulan


JAKARTA, KAMIS - Satelit Chandrayaan 1 milik India tengah memasuki tahap terakhir untuk menempatkan diri di orbit Bulan. Sejak sukses diluncurkan 22 Oktober lalu, wahana pertama India yang khusus dikirim ke BUlan itu telah menjalankan manuver untuk melesat dari Bumi ke Bulan.

Chandrayaan 1 harus mengelilingi Bumi beberapa kali dan memanfaatkan gaya gravitasi Bumi untuk melentingkan diri. Setiap kali berbelok, roket dinyalakan untuk membentuk orbit lonjong yang terus membesar mendekati Bulan.


Roket yang dinyalakan pada manuver terakhir cukup kuat mendorongnya hingga 384.000 kilometer namun belum cukup. Manuver berikutnya yang akan dilakukan Sabtu (8/11) akan menempatkannya ke orbit Bulan. Manuver-manuver serupa di orbit BUlan akan menempoatkannya pada orbit yang diinginkan di ketinggian 100 kilometer.

Pengaturan manuver itu diamati melalui Telemetry, Tracking and Command Network (ISTRAC) milik badan riset antariksa India (ISRO) di Bangalore. Transmisi data didukung antena Indian Deep Space Network di Byalalu.

Baru-baru ini, ISRO juga telah merilis foto pertama yang diambil Chandrayaan sepanjang perjalanan ke Bulan. Foto tersebut memperlihatkan wilayah Australia dari orbit.

Chandrayaan 1 direncanakan akan bekerja di Bulan selama 2 tahun. Misi utama satelit tersebut adalah memetakan permukaan Bulan dalam gambar 3 dimensi dan peta distribusi mineral yang dikandung di sana.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Ozon Antartika Membesar hingga 5x Lipat


NEW YORK - Ssemua orang di dunia seharusnya serius menyadari efek yang ditimbulkan dari pemanasan global, yang mungkin saja akan makin terasa dalam waktu dekat. Hal tersebut diingatkan oleh NASA yang melaporkan bahwa lubang ozon di Antartika akan menjadi lima kali lebih besar pada tahun ini.

Badan Antariksa Amerika Serikat tersebut mencatat, lubang ozon di langit antartika telah menganga hingga 10,5 juta mil. Lebih besar pada tahun lalu yang mencapai 9,5 juta mil atau sebesar daratan di Amerika Utara. NASA sendiri mengaku bahwa mereka telah melakukan pengamatan ini sejak 30 tahun terakhir.


"Meskipun masih belum dalam tahap mengkhawatirkan, ini jelas akan membahayakan manusia nantinya," ujar Paul Newman ilmuwan NASA, seperti yang dilansir CNN, Jumat (7/11/2008).

Ozon ini terdapat pada lapisan stratosphere yang mampu menangkal sinar ultraviolet yang membahayakan dari angkasa. Lubang ozon terbentuk dari gas yang terus dibuat oleh manusia. Lubang ozon biasa terlihat pada Agustus dan makin membesar pada September atau Oktober, sebelum akhirnya menghilang.

Seperti diketahui sebelumnya, penipisan ozon ini ditengarai karena perubahan iklim yang sangat ekstrim, yang terjadi karena pengaruh industri global yang menghasilkan polusi tingkat tinggi. Belum lagi industri rumah tangga yang menggunakan bahan chlorofluorocarbons, atau CFC pada peralatannya.

Saat ini selain mengancam kehidupan manusia, penipisan ini juga akan merusak populasi beruang kutub di antartika, tipisnya lapisan es dan panas yang berlebih membuat kehidupan beruang kutub dapat terancam.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Hubble Kirimkan Foto Galaksi 10


FLORIDA - Salah satu teleskop luar angkasa Hubble akhirnya bisa kembali beroperasi. Setelah beberapa bulan sebelumnya, teleskop buatan NASA ini tidak bisa digunakan karena rusak. Hubble sendiri dibuat untuk memotret gambar-gambar yang ada di galaksi.

Badan Antariksa Amerika Serikat, beberapa hari lalu, telah memberi tahu bahwa teleskop mereka yang bernama Hubble kini bisa bekerja kembali dan siap mengirimkan foto di galaksi ke bumi. Foto pertama yang dikirimkan Hubble setelah rusak adalah sebuah pencitraan sepasang galaksi yang bernama Arp 147.

Hasil jeperetan kedua galaksi Arp 147 itu tampak seperti angka 10. Ini disebabkan kedua galaksi tersebut difoto dari sudut berbeda. Galaksi sebelah kiri difoto dari sisi atas, sedangkan yang sebelah kanan diambil dari sisi kiri.

Masalah Hubble dimulai pada awal Oktober. Saat itu, teleskop tersebut mengeluarkan bunyi aneh yang berdampak pada keterlambatan pengiriman foto ke pangkalan Atlantik. Tujuh astronot pun disiapkan membetulkan Hubble. Dan hasilnya, cukup satu bulan Hubble dapat beroperasi kembali.

Dalam laporan Associated Press, Senin (3/11/2008), meskipun Hubble telah selesai diperbaiki, mereka tetap akan mengirimkan pesawat ulang alik untuk memastikan Hubble ini dapat dipakai dengan maksimal. NASA berencana akan mengirimkannya pada Februari mendatang, tetapi dibatalkan sampai batas waktu yang belum bisa dipastikan.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Messenger Ungkap 30 Persen Bagian Tersembunyi Merkurius



WASHINGTON, Jumat - Para ilmuwan NASA, Rabu (29/10) waktu AS memperlihatkan foto-foto terbaru permukaan Planet Merkurius kiriman wahana antariksa Messenger. Foto-foto yang dibuat saat Messenger melintas dekat Merkurius awal bulan ini merupakan 30 persen permukaan yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Sebanyak 1.200 foto yang diperoleh memperlihatkan belahan barat planet itu. Para ilmuwan berharap akan menggunakan foto-foto itu untuk memetakan permukaan Merkurius.

"Kawasan permukaan Merkurius yang kami lihat dari jarak dekat untuk pertama kalinya bulan ini jauh lebih besar ketimbang daratan Amerika Selatan," kata ilmuwan NASA, Sean Solomon. "Bila digabung dengan data dari terbang lintas pertama dan dari Mariner 10, dengan cakupan terakhir kami berarti kami telah melihat sekitar 95 persen planet itu."

Pesawat antariksa NASA itu terbang dalam jarak hanya 200 kilometer dari Merkurius pada 6 Oktober pada penerbangan kedua dari tiga penerbangan yang direncanakan untuk mendekati Merkurius. Messenger akan masuk ke orbit sekitar Merkurius pada 2011 untuk memberikan apa yang diharapkan para ilmuwan akan merupakan gambar lengkap planet terkecil dalam tata surya itu.

Selain memotret dari jarak dekat, terbang lintas tersebut juga dirancang terutama untuk menangkap dorongan energi gravitasi bagi wahana itu. Merkurius merupakan planet terdekat dengan Matahari sehingga tarikan gravitasi Matahari sangat besar dan tingkat radiasi yang tinggi sekali. Planet itu menjadi benda langit yang paling misterius di tata surya, sekalipun jaraknya cukup dekat dengan Bumi.

Para ilmuwan dan pengamat berharap Messenger akan memberikan jawaban mengenai proses kimiawi yang mempengaruhi atmosfir Merkurius. Mereka juga berupaya mengungkap informasi lebih jauh tentang partikel bermuatan yang terletak di sekitar medan magnetik yang dinamis dari planet itu.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Ada Petir di Atmosfer Titan, Adakah Kehidupan di Sana?



Pontianak, Jumat - Salah satu bulan Planet Saturnus yang bernama Titan mungkin objek selain Bumi yang mendukung kehidupan. Keyakinan para ilmuwan tersebut semakin kuat dengan dideteksinya petir di atmosfernya baru-baru ini.

"Sejauh ini, memang belum terlihat petir di atmosfer titan," ujar Juan Antonio Morente, peneliti dari Universitas Granada, Spanyol. Namun, ia mengatakan, aktivitas listrik di atmosfernya yang tebal telah terdeteksi.

Tim yang dipimpin Morente mengetahui adanya petir dari hasil rekaman data yang dikirimkan wahana milik badan antariksa Eropa (ESA) Huygens yang dilepaskan ke atmoster Titan pada tahun 2005. Huygens yang sebelumnya dibawa wahana lain bernama Cassini itu merupakan wahana pertama yang menembus atmosfer Titan yang tebal.

Saat wahana tersebut masuk ke atmosfer Titan, langsung terempas 30 derajat oleh dorongan angin yang kuat. Saat itulah, Huygens mendeteksi aktivitas listrik. Temuan ini dilaporkan dalam jurnal Icarus edisi terbaru.

Penemuan aktivitas listrik yang diyakini kuat sebagai petir itu menambah daftar kemiripan Titan dengan lingkungan Bumi. Sebelumnya, para ilmuwan mendeteksi danau minyak di permukaan Titan yang menjadikannya sebagai objek ruang angkasa kedua setelah Bumi yang diketahui memiliki cairan di permukaannya.

Hasil studi terbaru itu menunjukkan aktivitas listrik di sana melepaskan energi yang sebanding dengan petir di atmosfer Bumi. Yang membedakan, permukaan Titan sangat dingin dengan suhu sekitar -180 derajat Celcius sehingga makhluk apapun di Bumi tak akan kuat hidup di sana. Selama ini, petir diyakini sebagai energi yang pertama kali mereaksikan molekul-molekul organik yang merupakan benih kehidupan di Bumi.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Pesan Penduduk Bumi untuk Alien


Pontianak, SELASA - Ribuan teks, gambar, dan foto telah dipaket dan dikirimkan ke planet asing yang berjarak 20 tahun cahaya dari Bumi atau setara 120 triliun kilometer. Pesan tersebut merupakan kumpulan hasil karya jutaan pengguna situs jejaring sosial Bebo melalui kompetisi yang disebut A Message From Earth.

Total terdapat 501 karya yang terpilih untuk dikirim ke luar angkasa dengan harapan muluk diterima alien dan dibalas. Seluruh karya dalam bentuk digital itu telah diterjemahkan ke dalam format biner dan dipancarkan melalui gelombang radio dari sebuah teleskop radio raksasa RT-70 milik Badan Antariksa Nasional di Ukraina.

Pengiriman pesan telah dilakukan Kamis (9/10) pukul 13.00 WIB. Oli Madgett dari Bebo mengatakan pesan tersebut sampai ke Bulan dalam 1,7 detik kemudian, dampai Mars dalam 4 menit, dan akan meninggalkan tata surya sebelum Jumat (10/10) pagi.

Target terakhir yang dituju adalah Planet Gliese 581C. Pesan tersebut baru akan sampai ke planet tersebut pada awal 2029. Gliese 581C merupakan salah satu planet ekstrasolar yang padat dan mengelilingi bintang serupa Matahari sehingga sering disebut super-Bumi.

"Pesan dari Bumi merepresentasikan kesempatan bagi pemukim digital hari ini untuk selalu terhubugn dengan sains dan alam semesta yang lebih luas secara sederhana, menyenangkan, dan mendalam," ujar Mark Charkin, jurubicara Bebo.

Ada tidaknya makhluk lain selain manusia nun jauh di sana bukan hal yang utama. Kalaupun ada, apakah mereka dapat mengerti pesan tersebut juga tidak terlalu penting.

"Yang penting mungkin sangat sederhana, paling tidak ini bukit bahwa kita cukup pandai membuat pemancar radio," ujar Seth Shostak, seorang astronom senior dari Search of Estraterestrial Institute (SETI) yang aktif melakukan pencarian terhadap alien.

Jadi, kalau ada alien yang menangkap pesan tersebut, mereka tahu ada makhluk yang sepintar mereka. Selain itu, mereka dapat melacak ke Bumi, asal gelombang dipancarkan.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Kendaraan Penjelajah Bulan Masa Depan Senyaman Sedan


BLACK POINT, SENIN - Saat manusia bisa menjejakkan kaki kembali di permukaan bulan pada dekade mendatang, mobil penjelajah adalah salah satu sarana terpenting. Badan antariksa AS (NASA) telah menyiapkan kendaraan khusus yang dapat dipakai astronot untuk bergerak lebih leluasa.

Prototipe mobil yang disebut Small Pressurized Rover Concept itu memiliki enam pasang roda. Kendaraan yang bekerja dengan sumber energi dari baterai tersebut dapat berjalan dengan kecepatan hingga 9,6 kilometer perjam.

Bentuk luarnya sekilas mirip dengan kendaraan serupa yang dipakai dalam misi Apollo pada tahun 1970-an. Namun, tak lagi seperti jeep rendah terbuka yang berisi astronot dengan baju khasnya.

"Anda hanya perlu menggunakan pakaian antariksa saat turun keluar untuk mengambil batuan," ujar Mike Gernhardt, mantan astronot NASA saat melihat uji cobanya di kawasan gurun di Arizona, Jumat (25/10) lalu. Selama astronot hanya melakukan pengamatan, ia tidak perlu memakai pakaian yang berat tersebut karena terdapat ruangan khusus.

Pada kendaraan penjelajah yang baru dilengkapi kabin bertekanan dengan kursi kulit yang muat dua orang sehingga dapat menikmatinya senyaman mengendarai sedan. Ruangan tersebut ditutup kaca transparan yang lebar sehingga astronot dapat bebas melakukan pengamatan terhadap suasana di luar.

Kendaraan tersebut didesain untuk dapat dipakai untuk menjelajah lebih lama. Pengendaranya dapat menggunakannya untuk berkeliling bulan selama dua minggu tanpa banyak berhenti dan menjangkau jarak hingga 1000 kilometer.

"Ini merupakan penjelajahan bulan generasi baru," ujar Doug Craig, manajer program NASA. Setelah menyelesaikan pembangunan stasiun ruang angkasa pada tahun 2010, NASA berencana mengirim kembali manusia ke Bulan dan membangun pemukiman sementara di permukaannya sebagai batu loncatan untuk pengiriman manusia ke Mars.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Ancaman Itu Datang dari Matahari


Matahari. Sinar dan panasnya tentu begitu penting bagi kelangsungan kehidupan di muka bumi ini sepanjang masa. Namun, di balik benderangnya benda langit itu tersembunyi ”sisi gelap” yang mengganggu kondisi di bumi, yaitu bintik hitam (sunspot) yang diikuti badai dan flare.

Sebagai pusat peredaran planet-planet di tata surya, matahari merupakan sumber energi bagi makhluk di bumi. Energi itu dihasilkan dari reaksi termonuklir untuk mengubah hidrogen menjadi helium yang terjadi di dekat inti matahari. Suhu di bagian pusat matahari yang terdiri dari gas berkerapatan 100 kali kerapatan air di bumi itu, mencapai 15 juta derajat Celsius.

Di dalam perut matahari terjadi rotasi dan aliran massa atau konveksi yang memengaruhi gaya magnetnya. Pada aktivitas tinggi, gaya magnet ini bisa terpelintir atau berpusar hingga menembus permukaan matahari membentuk ”kaki-kaki”, yang tampak bagai bintik hitam.

Bintik hitam matahari memiliki diameter sekitar 32.000 kilometer, umumnya terdiri dari dua bagian, yaitu bagian dalam yang disebut umbra, berdiameter 13.000 km atau seukuran diameter rata-rata bumi dan bagian luar disebut penumbra yang garis tengahnya kurang lebih 19.000 km. Suhu penumbra lebih panas dan warnanya lebih cerah dibanding umbra.

Suhu gas yang terbentuk di lapisan fotosfer dan kromosfer di atas kelompok bintik hitam itu naik sekitar 800º Celsius di atas suhu normalnya. Akibatnya, gas ini memancarkan sinar lebih besar dibandingkan dengan gas di sekelilingnya.

Setelah beberapa hari, pelintiran magnetik ini terpecah menjadi beberapa pelintiran lebih tipis. Masing-masing bergerak melintasi permukaan ke berbagai arah hingga menghilang.

Seperti di bumi, di permukaan matahari pun terjadi badai. Badai matahari terjadi di daerah kromosfer dan korona—berada di atas kawasan munculnya bintik-bintik hitam. Beberapa badai matahari juga muncul ketika terjadi ledakan cahaya atau flare. Ketika flare muncul, terjadi pelepasan sejumlah besar energi. Umumnya, kian banyak bintik hitam terbentuk, maka flare pun makin banyak.

Dampak

Flare yang mengeluarkan partikel kecepatan tinggi dalam badai matahari menyebabkan timbulnya tekanan pada magnetosfer bumi hingga mengakibatkan badai magnetik di bumi. Fenomena ini mengganggu komunikasi radio dan membuat jarum kompas berputar liar di bumi.

Bintik hitam matahari dan flare, menurut Sri Kaloka, Kepala Pusat Pengamatan Dirgantara Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), telah menimbulkan dampak berarti di beberapa wilayah di bumi—terutama di lintang tinggi—karena meningkatnya elektron di lapisan ionosfer. Tahun 1980-an, misalnya, pembangkit listrik di Quebec, Kanada, padam akibat terpengaruh badai matahari.

Gangguan di lapisan ionosfer di ketinggian 60 km-6.000 km dari permukaan bumi ini juga menyebabkan kekacauan dalam penyampaian sinyal komunikasi frekuensi tinggi, yang menggunakan lapisan itu sebagai media pemantul sinyal. Sistem navigasi dengan satelit global positioning system menjadi tidak akurat.

Jumlah bintik hitam yang tampak dari pengamatan dari bumi bervariasi, dari 1-100 titik. Bintik ini butuh waktu 11 tahun untuk mencapai jumlah tertinggi, lalu menurun lagi. Periode ini disebut siklus bintik matahari.

Sri Kaloka mengingatkan, puncak jumlah bintik hitam dapat terjadi lagi tahun 2011. Karena itu, semua pihak yang berkaitan dengan potensi dampak hendaknya mengantisipasi.

Data pemantauan bintik matahari dan flare terpantau di Pusat Pengamatan Dirgantara Lapan di Tanjungsari, Sumedang, sejak stasiun itu beroperasi 1975. Data itu dapat dimanfaatkan semua pihak yang berkepentingan. Hasilnya dikirimkan ke Bank Data di Swiss, urai Sri.

Periode dingin

Dalam kondisi ekstrem, baik tinggi maupun rendah, bintik hitam atau flare memberi dampak buruk bagi kondisi di bumi. Saat ini kejadian bintik hitam, menurut Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Mezak Ratag, justru dalam titik terendah.

Bintik hitam adalah indikator aktivitas matahari. Bila sedikit jumlahnya, energi yang dipancarkan matahari berkurang, yaitu 0,1 persen pada cahaya tampak, tetapi bisa puluhan persen pada ultraviolet. Kejadian bintik matahari bisa berkurang akibat menurunnya aktivitas dinamo matahari, konveksi, dan atau tekanan radiasi dari reaksi nuklir di pusat matahari.

Dalam beberapa tahun terakhir terjadi anomali aktivitas matahari itu. ”Hanya beberapa hari saja dalam dua tahun terakhir ini terpantau aktivitas bintik matahari,” ujar Mezak. Kondisi permukaan matahari hampir tanpa sunspot dalam beberapa tahun terakhir itu dikhawatirkan mengarah pada minimum Maunder kedua setelah kejadian pendinginan global sekitar tahun 1600-an.

Rendahnya aktivitas matahari berarti berkurangnya suplai panas ke bumi secara rata-rata global dalam skala waktu tahunan— bukan harian atau bulanan. Akan tetapi, pemanasan lokal masih bisa terjadi. Seperti beberapa bulan terakhir, suhu laut di bagian timur agak hangat, urai Mezak.

Berkurangnya suplai energi dari matahari pada bumi menyebabkan berkurangnya pemanasan lautan, berarti pula penguapan air laut yang akan menjadi hujan pun rendah.

Menurunnya suplai energi matahari juga melemahkan monsun. Gerakan angin monsun terjadi karena perbedaan panas antarlautan dan benua berdasarkan posisi garis edar matahari.

Pengaruh matahari ini tidak berkorelasi dengan peningkatan suhu udara beberapa pekan terakhir. Tingginya suhu udara di bumi disebabkan tingginya uap air, tetapi sedikit yang terbentuk menjadi awan, sedangkan matahari sudah di lintang selatan. Cahaya matahari sampai ke permukaan bumi tanpa halangan awan. Namun, inframerah yang dipancarkan ke bumi tertahan uap air sehingga menaikkan suhu. Uap air banyak dari laut.

Itu dijelaskan Mezak selaku Executive Panel Riset Monsun Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada pertemuan WMO di Beijing, Selasa (21/10), berdasarkan laporan sejumlah ilmuwan dari AS, China, dan Australia. Mereka mengatakan, ada tren pelemahan monsun di berbagai tempat di bumi. ”Di Indonesia, kondisi itu mengakibatkan pelemahan monsun rata-rata dalam beberapa tahun terakhir, tetapi variasinya dari tahun ke tahun bisa besar,” tambahnya.

Senin (20/10), Pusat Data Aktivitas Matahari (SIDC) di Belgia menghentikan peringatan ”All Quiet Alert”, karena peneliti di sana mendeteksi adanya aktivitas di matahari. Namun, laporan ini belum final, mengingat banyak pakar astrofisika matahari meyakini perioda aktivitas rendah ini masih akan berlangsung lama hingga berdampak pendinginan global (global cooling).

Pada kondisi belakangan ini, China mengalami musim dingin paling dingin dalam 100 tahun terakhir, Amerika Utara mencatat rekor tinggi salju, Inggris mengalami April terdingin.

Kondisi ini bukan pertama kali ini terjadi. Dari catatan sejarah, tahun 1645-1715 matahari hampir tanpa bintik, aktivitasnya sangat lemah. Pada kurun waktu itu, suhu permukaan global sangat rendah sehingga dinamakan Zaman Es Kecil.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Ariannespace Luncurkan 3 Satelit Baru SES Grup

JAKARTA - Penyedia jasa satelit global SES (Euronext Paris and Luxembourg Stock Exchange SESG) sepakat untuk menggunakan Ariannespace untuk melakukan tiga peluncuran baru. Kesepakatan ini dituangkan dalam multi launch agreement (MLA) yang ditandatangani pada bulan Juni 2007.

Kesepakatan tersebut mencakup tiga satelit baru untuk grup SES yaitu Astra 3B untuk SES Astra, ditambah dua satelit lainnya yang belum ditentukan.

Dengan berat antara 4.400 hingga 5.800 kilogram, ketiga satelit ini dijadwalkan akan diluncurkan pada tahun 2009 hingga 2012. Peluncuran ini akan dilakukan dengan menggunakan Arianne 5 dari Guiana Space Center di Kourou, French Guiana.

"Dengan tiga peluncuran baru ini, Ariannespace terus menyediakan jasa peluncuran yang memenuhi syarat kapasitas dan fleksibilitas yang dibutuhkan oleh salah satu operator satelit komunikasi terkemuka di dunia," ujar Chairman dan CEO Arianespace Jean-Yves Le Gall, melalui keterangan resminya, Senin (20/10/2008).





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Ditemukan, Planet Terpanas di Jagad Raya


PONTIANAK, SABTU - Dalam usaha perburuan planet-planet di luar tata surya kita, para peneliti menemukan planet yang dianggap paling panas. Planet bernama WASP-12b itu menyala dalam suhu 2.200 derajat Celcius, dan mengorbit bintangnya lebih cepat dan lebih dekat dibanding planet lain.

Planet tersebut mengitari bintangnya dalam sehari. Sebagai perbandingan, planet di tata surya kita yang paling cepat mengorbit Matahari adalah Merkurius, yang mengorbit Matahari sekali dalam 88 hari.

Untuk mencapai waktu orbit sedemikian cepat, planet itu berada sangat dekat dengan bintangnya, dengan jarak sekitar 3,4 juta kilometer atau hanya 2 persen dari jarak Bumi ke Matahari.

"WASP-12b adalah benda langit yang menarik karena ia memiliki waktu putar terpendek sekaligus menjadi planet terpanas," kata Don Pollacco dari Queen's University di Irlandia Utara, yang merupakan salah satu peneliti proyek SuperWASP (Super Wide Angle Search for Planets).

WASP-12b adalah planet gas, sekitar 1,5 kali massa Jupiter dan ukurannya hampir dua kali lipatnya. Planet yang mengelilingi sebuah bintang sejauh 870 tahun cahaya dari Bumi ini penting terutama karena memberi gambaran sedekat apa jarak sebuah planet dengan tanpa menjadi hancur.

"Ada batasan jarak karena semakin dekat sebuah planet terhadap bintangnya, pengaruh radiasinya makin kuat dan dalam satu titik, planet tersebut akan hancur mendidih karena panas bintangnya," ujar Pollacco. "Sebelumnya, orang-orang menduga sebagai sesuatu yang mustahil sebuah planet bisa memutari bintangnya dalam sehari dan bisa sedekat itu."

Planet ini juga sedemikian panas sehingga suhunya mirip dengan suhu beberapa bintang. Walau begitu, ia bukanlah sebuah bintang karena massanya tidak cukup besar untuk menghasilkan reaksi panasnuklir yang menjadi ciri sebuah bintang.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Topan Raksasa di Kutub Utara Planet Saturnus Menguat


JAKARTA, SABTU — Untuk pertama kalinya, topan raksasa yang terbentuk di dekat kutub utara Planet Saturnus menguat hingga 10 kali lipat dari kondisi sebelumnya. Kekuatannya setara dengan topan raksasa yang terdeteksi di bagian selatan planet tersebut.

Diameter topan diperkirakan sekitar 120 kilometer. Pusaran anginnya bergerak dengan kecepatan 530 kilometer per jam atau dua kali lipat kekuatan badai terkuat di Bumi.

"Ini adalah topan raksasa, ratusan kali lebih kuat daripada badai raksasa terbesar di Bumi," ujar Kevin Baines, ilmuwan yang terlibat dalam misi Cassini di Laboratorium Propulsi Jet.

Ditemukannya sejumlah badai di kutub utara maupun kutub selatan planet tersebut menunjukkan dinamika atmosfer di atas permukaannya. Di dalam topan tersebut juga mungkin terdapat petir raksasa yang bisa jadi mesin pengatur cuaca di Saturnus.

Para ilmuwan memperkirakan, topan tersebut terbentuk akibat aliran panas yang dilepaskan dari cairan permukaan yang menguap. Cara kerjanya kemungkinan mirip dengan badai yang terbentuk di Bumi dari titik-titik air yang terkumpul membentuk awan tebal.

Bentuk topan raksasa di Saturnus memiliki keunikan karena sisi luarnya seperti bangun heksagonal atau segi enam. Penyebabnya masih menjadi misteri hingga kini.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Lubang Baru di Satelit Mars


NEW YORK - Dalam sebuah observasi terbaru terhadap Phobos, satellit alami yang dimiliki oleh planet Mars tersebut telah menampakan objek baru seperti gundukan puing pada salah satu sisi bagian dari badan Phobos itu.

Phobos yang merupakan salah satu bulan yang terdekat dengan planet merah tersebut, menampakkan� gundukan puing yang sebelumnya tidak ada. Para peneliti sendiri belum bisa memastikan dari mana material itu berasal.


Saat ini para peneliti tengah menghitung seberapa besar gundukan tersebut. Data-data terbaru itu didapat dari Badan Antariksa Eropa yang mengirimkan pesawat Mars Ekspress, yang memang ditugaskan untuk melihat lebih dekat dengan planet yang diambil dari nama dewa perang legenda Yunani tersebut.

Pesawat penjelajah Mars Ekspress sendiri mengirimkan foto terbaru di Planet Mars dengan model 3 Dimensi, dan tingkat resolusi yang sangat tinggi, jadi penampakan tersebut bisa sangat jelas terlihat.

Tim lain melakukan penelitian dengan menggunakan sinyal radio dari geladak di ruang angkasa untuk menyertakan gravitasi Phobos, untuk menghitung massa objek dengan tepat. Berat objek itu sendiri adalah 1.072.101.6 Kilogram, atau lebih ringan 5 kali lipat dari Bumi.

"Suatu hari nanti kami bisa menghitung massa tersebut dengan tepat melalui frekuensi sinyal radio tadi," ujar Pascal Rossenblatt dari Royal Observator Belgia, salah satu anggota tim sains Mars Express.

Informasi massa dan volume yang tepat dapat membuat penelitian tersebut mengukur kepadatan Phobos dengan benar. Para peneliti melihat Phobos tidak menjadi kumpulan yang solid, sebab ada semacam gua besar disana.

Seperti yang diberitakan dari Space.com, Jumat (17/10/2008), sebelumnya diketahui, kepadatan Phobos adalah, 1.85 gram per kubik sentimeter. Dan faktanya, kepadatan ini didapat dari asteroid yang melewati Phobos, dan material dari asteroid tersebut yang memungkinkan gundukan puing itu terjadi.

Peneliti dari Amerika memang sedang mencari keberadaan air, yang ada di Planet Mars, karena jika memang betul ditemukan, suatu saat nanti Bumi sudah penuh sesak, maka akan dicarikan cara bagaimana mengirim manusia ke Planet Mars tersebut.

Phobos sendiri merupakan bulan kedua yang dimiliki oleh Mars, tidak seperti bulan pada umumnya yang bundar, Phobos sendiri berbentuk lonjong yang tidak simetris. Selain itu pada tampilan gambar bulan tersebut, banyak kawah yang menyebabkan Phobos tampak 'berjerawat' dari kejauhan. Dan lubang terbesar di Mars ini bernama Stickey dengan diameter 10 Km.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

NASA akan Kirim Rover Lagi ke Mars


WASHINGTON, SENIN - Badan Antariksa AS (National Aeronautics and Space Administration/NASA) saat ini tengah berancang-ancang untuk meluncurkan misi Mars berikutnya tahun 2009. Namun, badan tersebut mengakui membutuhkan dana ekstra yang besar untuk mewujudkannya.

Adapun wahana yang akan dikirim ke planet merah disebut Mars Science Laboratory (MSL), yang seukuran Mini Cooper. Pengirimannya merupakan rencana penjelajahan antariksa terbesar.

Saat ini, para teknisi sedang menghadapi sejumlah kendala teknis, seperti tingkat kompleksitas mesin yang akan menggerakkan MSL ketika menjelajahi permukaan Mars.

Anggaran untuk misi ini telah ditingkatkan dari 1,6 milyar dolar AS menjadi 1,9 milyar dolar AS. Namun NASA tidak mengungkapkan berapa banyak dana ekstra yang dibutuhkan.

Sekarang, NASA sedang mencari dukungan dari Kongres AS dan menghitung apakah ada uang dari misi lainnya yang dapat dialokasikan kembali untuk MSL

Desakan Jadwal

NASA membutuhkan dana tambahan untuk mempercepat jadwal perakitan MSL yang sempat tertunda. Penyebab utama penundaan ini adalah belum siapnya aktuator, yakni mesin yang mengarahkan dan memutar roda robot penjelajah, dan menggerakkan lengannya.

Karena bobot dan ukuran MSL, ada mesin-mesin kompleks yang sulit dibuat. Kurangnya aktuator tersebut menyebabkan jadwal bergeser yang menyebabkan membengkaknya anggaran pada sistem, kata Direktur Mars Exploration Program Doug McCuistion di Markas NASA. "Alat yang dibutuhkan untuk bereksperimen di permukaan Mars, seperti bor, juga membutuhkan aktuator, dan ini juga tertunda."

MSL adalah penjelajah "pintar" yang akan diterjunkan di permukaan Planet Merah menggunakan wahana angkasa luar. Dengan ukuran panjang tiga meter, dan bobot 850 kilogram, MSL terlalu besar untuk didaratkan dengan menggunakan bantalan udara, seperti yang digunakan pada misi Mars sebelumnya.

MSL dilengkapi dengan generator nuklir kecil guna menjalankan misinya selama satu tahun Mars. Wahana ini akan melakukan percobaan biologi dan melanjutkan pekerjaan geologi yang sedang dilakukan oleh Mars Exploration Rovers sekarang.

Misi Kritis

Misi ke planet Mars ini dilakukan ketika posisi Bumi dan Mars berada dalam satu garis, suatu kesempatan yang hanya muncul setiap dua tahun sekali. Jika MSL gagal diluncurkan pada tahun 2009, ia akan mengalami penundaan panjang, yang menyebabkan semakin membengkaknya anggaran yang dibutuhkan. Biaya yang diperlukan akibat penundaan ini jauh lebih mahal dibandingkan menambah tenaga kerja untuk memastikan misi ini terlaksana sesuai jadwal.

MSL merupakan misi ilmiah yang sangat penting, yang dijalankan antara lain untuk menemukan potensi kehidupan di planet lainnya, kata McCuistion.

Dr Ed Weiler, Associate Administrator Direktorat Misi Ilmiah NASA, menambahkan, "Kami telah mengeluarkan 1,5 milyar dolar AS untuk MSL. Sepanjang kita berpikir kita memiliki kesempatan teknis yang baik untuk mewujudkannya, kita akan melakukan apa yang harus diperbuat.

Adapun waktu peluncuran paling tepat bagi MSL adalah dari 15 September hingga 4 Oktober 2009. Bila sesuai jadwal, MSL akan tiba di Mars antara 10 Juli hingga 14 September 2010.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Bos Video Game Tamasya ke Antariksa


IKONUR - Untuk kesekian kalinya, orang sipil rela merogoh kocek agar dapat berpelesiran ke ruang angkasa. Pekan ini, pemilik perusahaan video game terkemuka Richard Garriott berencana menjalani perjalanan ke antariksa bersama kapal luar angkasa milik Rusia. Kepergian Garriot itu mengikuti jejak sang ayah yang merupakan astronot NASA, ketika perang dingin tengah bergejolak.

Garriot rela mengeluarkan dana sebesar USD35 juta untuk memuluskan langkahnya tersebut. Untuk mengarungi jarak jutaan cahaya mil itu, bos video game tersebut akan menggunkan pesawat Soyuz TMA-13, bersama astronot asal Amerika Serikat Michael Fincke dan kosmonot Rusia Yury Lonchakov.


Satu hal yang menarik dari wisata super mahal itu adalah, baik Richard Garriot maupun ayahnya Owen Garriot, melaksanakan misi ini di saat hubungan diplomatik antara Rusia dan Amerika Serikat sedang mengalami hubungan yang kurang harmonis. Perang dingin yang berkecamuk antara 1941-1991, merupakan perang antara blok barat yang dimotori Amerika Serikat dengan blok timur yang dipimpin Uni Soviet, yang kini telah pecah, di antaranya menjadi Rusia. Saat ini, hubungan antara kedua negara besar tersebut dikabarkan sedang renggang.

Namun, Richard meyakinkan bahwa misinya tersebut tidak mengandung unsur politik. Menurutnya, keadaan negaranya tidak mempengaruhi hubungannnya dengan awak pesawat yang lainnya.

"Sejauh ini kami memang peduli terhadap isu politik yang ada, akan tetapi itu tidak mempengaruhi semua kru, dan Kami akan selalu bekeja sama. Karena tidak ada ruang di luar angkasa untuk politik," ungkap seorang astronot, Michael Fincke seperti dikutip Reuters, Minggu ( 12/10/2008).

Garriot dan tim ISS akan berangkat menjelajahi luar angkasa selama kurang lebih 12 hari. Diperkirakan tim ini akan mendarat di Bumi pada 24 Oktober mendatang.

Meskipun sempat mengalami kerusakan, Badan Antariksa Rusia menjamin rombongan ini akan kembali selamat sesuai jadwal.

Bagi Richard Garriot sendiri keberangkatannya ke luar angkasa merupakan impiannya sejak kecil, karena dia selalu berkeyakinan suatu hari nanti dapat mengikuti jejak sang ayah, terlebih lagi sewaktu kecil dia selalu dikelilingi tentang dunia astronomi tersebut.

"Saya tumbuh di lingkungan dimana saya percaya setiap orang dapat pergi ke luar angkasa karena saya tahu dapat mewujudkannya suatu hari ini," ujar Garriot.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Messenger Kirimkan Foto Topografi Merkurius


AMERIKA - Robot NASA yang melakukan misi ke Planet Merkurius, Messenger, telah mengirimkan foto terbaru tentang keadaan planet tersebut.

Messenger dikirim oleh NASA untuk melakukan penelitan tentang kemungkinan keadaan planet tersebut dapat di huni oleh manusia.

Dalam foto tersebut diprediksi bahwa kecil kemungkinan Merkurius dapat menjadi pusat kehidupan kedua bagi umat manusia, mengingat jarak planet dengan Matahari yang hanya 36 juta mil. Tentu saja, keadaan ini membuat atmosfir udara disana sangat dikit, apalagi ditambah suhu udara yang bisa mencapai 800 derajat Fareinheit. Dan pada malam hari, temperature bisa turun drastis hingga minus 300.

Perbedaan waktu juga menjadi kendala berat. Jika 58 hari di Bumi, maka di Planet Merkurius sama dengan 88 hari. Yang berarti, satu tahun disana jauh lebih lama dari pada di Bumi.

Seperti disitat dari CNN, Rabu (8/10/2008), dari foto yang dikirimkan tersebut terlihat jelas permukaan Merkurius dengan cekungan berdiameter 83 mil, cekungan tersebut dinamai Polygnotus. Di foto yang lain, tampak dari wilayah tersebut bagian yang disinari matahari dan bagian yang gelap.

Penjelajahan Messenger sendiri dimulai oleh Badan Antariksa Amerika sejak bulan Januari 2004, dan robot itu akan terus disana hingga Maret 2011. Langkah ini dilakukan agar bumi dapat terus meneliti kemungkinan adanya kehidupan di daerah bagian Merkurius.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

 

Hujan Kali Ini

View blog reactions Your Site Title There are currently : visitors online. Powered by Online Count.

Senandung Kala Hujan

Free Devil ani MySpace Cursors at www.totallyfreecursors.com