F1 News

My BlogCatalog BlogRank
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Obama - McCain, Sepakat Tangani Global Warming


WASHINGTON - Walaupun Barack Obama dan Jhon McCain tengah bersaing memperebutkan kursi no 1 di Amerika Serikat (AS), bahkan tidak jarang keduanya terlibat beda pendapat di setiap debat yang mereka lakukan, lain halnya dengan masalah krisis pemanasan global, mereka sepakat untuk memberi perhatian khusus kepada isu ini.

Mereka juga sepakat dengan Presiden George W Bush, tentang kebijakan panjang yang diambil oleh Bush tersebut. Bagi kedua kandidat, krisis iklim ini menjadi masalah nyata dan penting untuk segera dibahas. Sebelumnya, Presiden Bush juga menyetujui proposal tentang penanggulangan bahaya emisi gas karena efek rumah kaca.

Sebenarnya siapapun yang terpilih pada pemilihan nanti, harus mempunyai ketegasan dalam membuat regulasi tentang perindustrian dan gas buang yang dihasilkan. Karena, menurut stastik pada delapan tahun terakhir, AS mengalami peningkatan polusi yang cukup memprihatinkan.

Kandidat asal Partai Republik, Jhon McCain, memiliki peran penting. Pasalnya McCain telah lama berkecimpung dalam hal krisis pemanasan global. Bahkan pada tahun 2003, McCain menjadi orang legislatif pertama yang menyetujui batas pengeluaran bagi gas pabrik yang menurutnya penyumbang terbesar bagi polusi.

Tetapi, dalam beberapa minggu belakangan, senator asal Arizona ini tidak lagi membahas isu tentang krisis ini. Bahkan di setiap kampanye, dia lebih mengedepankan masalah ekonomi.

McCain mengklaim, baginya saat ini yang penting bagi Amerika Serikat adalah membangun industri nuklir, karena industri berbasiskan tenaga nuklir, tidak mengeluarkan emisi gas. Demikian yang diberitakan The New York Times, Senin (20/10/2008).

Dari pihak Obama sendiri mempunyai beberapa rencana untuk membahas masalah krisis yang paling dikhawatirkan di seluruh dunia tersebut. Di antaranya adalah dana USD150 milliar siap di gelontorkan secara bertahap untuk membangun teknologi yang ramah lingkungan, seperti tenaga matahari, karena dirinya yakin tenaga matahari jauh lebih aman dan bersih. Apalagi, tenaga matahari dapat diisi ulang.

Kini, penting bagi keduanya untuk membuktikan komitmennya terhadap konstituen yang telah memilih mereka. Karena, masalah krisis pemanasan global, bukan masalah yang yang harus dikecilkan lagi.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Ilmuwan AS: Obama - McCain, Sama Baiknya


WASHINGTON - Setelah sebelumnya NASA dengan terang-terangan mendukung kandidat Barrack Obama, sebagai Presiden Amerika Serikat. Maka lain halnya dengan para ilmuwan di bidang sains. Mereka dengan tegas belum memutuskan siapa yang akan mereka dukung, karena bagi para ilmuwan tersebut, kedua kandidat, baik John McCain maupun Barrack Obama, sama baiknya.

Para Ilmuwan di negeri Paman Sam, selama delapan tahun belakangan, di bawah pemerintahan Presiden George Bush, sempat mengalami frustasi dalam menghadapi administrasi pemerintahan. Bagi mereka, Bush telah membatasi penelitian, penolakan, dan tidak ada dukungan yang nyata dari pemerintah mengenai isu Global Warming, yang selama ini benar-benar mereka perjuangkan.

Mereka pun memiliki harapan lebih kepada kedua kandidat yang tengah bertarung menuju Gedung Putih itu. Bagi mereka, siapapun presidennya, dia harus mau peduli akan kasus Global Warming, serta mempermudah jalan mereka dalam melakukan sebuah riset, yang selama ini sulit didapat pada era presiden yang doyan perang tersebut.

Obama dan McCain sendiri dalam setiap debat dan kampanye, telah berjanji akan memberi perhatian lebih pada bidang sains, dengan tidak melakukan pelarangan, melengkapi kebutuhan ilmuwan di pemerintahan. Selain itu, mereka mengumbar janji akan memberi tambahan uang bagi setiap penelitian di bidang sains.

Sayangnya banyak ilmuwan yang meragukan hal tersebut karena Amerika sendiri sedang terpuruk akibat krisis ekonomi yang mereka alami. Walaupun begitu, para ilmuwan itu tetap senang mendengar perhatian yang diberikan oleh kedua kandidat tersebut.

Barrack Obama mungkin bisa selangkah lebih maju dibandingkan rivalnya, Senator asal Illinois ini berhasil memuluskan langkah NASA untuk membeli sebuah pesawat ulang alik asal Rusia. Selain itu, Obama mengeluarkan USD3 juta untuk membeli sebuah proyektor besar di Planetarium Chicago. Untuk keputusan yang satu ini, McCain sempat mempertanyakan pembelian tersebut dan menganggapnya sebagai hal untuk menghamburkan uang.

Kandidat yang pernah tinggal di Menteng ini juga memaparkan akan memberikan dana untuk investasi pengembangan penelitian, setidaknya USD15 juta selama kurun waktu 10 tahun. Ini menjadi satu poin plus bagi Obama.

"Sampai saat ini kami melihat kedua kandidat tersebut masih sama-sama bagus, kita akan lihat siapa yang lebih peduli pada isu energi. Pada keadaan seperti ini, apa kita hanya memberikan sedikit perhatian saja?" tutur Henry Lambright, Profesor asal Universitas Syracuse, seperti yang diberitakan Associated Press, Kamis (16/10/2008).





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Bos Video Game Tamasya ke Antariksa


IKONUR - Untuk kesekian kalinya, orang sipil rela merogoh kocek agar dapat berpelesiran ke ruang angkasa. Pekan ini, pemilik perusahaan video game terkemuka Richard Garriott berencana menjalani perjalanan ke antariksa bersama kapal luar angkasa milik Rusia. Kepergian Garriot itu mengikuti jejak sang ayah yang merupakan astronot NASA, ketika perang dingin tengah bergejolak.

Garriot rela mengeluarkan dana sebesar USD35 juta untuk memuluskan langkahnya tersebut. Untuk mengarungi jarak jutaan cahaya mil itu, bos video game tersebut akan menggunkan pesawat Soyuz TMA-13, bersama astronot asal Amerika Serikat Michael Fincke dan kosmonot Rusia Yury Lonchakov.


Satu hal yang menarik dari wisata super mahal itu adalah, baik Richard Garriot maupun ayahnya Owen Garriot, melaksanakan misi ini di saat hubungan diplomatik antara Rusia dan Amerika Serikat sedang mengalami hubungan yang kurang harmonis. Perang dingin yang berkecamuk antara 1941-1991, merupakan perang antara blok barat yang dimotori Amerika Serikat dengan blok timur yang dipimpin Uni Soviet, yang kini telah pecah, di antaranya menjadi Rusia. Saat ini, hubungan antara kedua negara besar tersebut dikabarkan sedang renggang.

Namun, Richard meyakinkan bahwa misinya tersebut tidak mengandung unsur politik. Menurutnya, keadaan negaranya tidak mempengaruhi hubungannnya dengan awak pesawat yang lainnya.

"Sejauh ini kami memang peduli terhadap isu politik yang ada, akan tetapi itu tidak mempengaruhi semua kru, dan Kami akan selalu bekeja sama. Karena tidak ada ruang di luar angkasa untuk politik," ungkap seorang astronot, Michael Fincke seperti dikutip Reuters, Minggu ( 12/10/2008).

Garriot dan tim ISS akan berangkat menjelajahi luar angkasa selama kurang lebih 12 hari. Diperkirakan tim ini akan mendarat di Bumi pada 24 Oktober mendatang.

Meskipun sempat mengalami kerusakan, Badan Antariksa Rusia menjamin rombongan ini akan kembali selamat sesuai jadwal.

Bagi Richard Garriot sendiri keberangkatannya ke luar angkasa merupakan impiannya sejak kecil, karena dia selalu berkeyakinan suatu hari nanti dapat mengikuti jejak sang ayah, terlebih lagi sewaktu kecil dia selalu dikelilingi tentang dunia astronomi tersebut.

"Saya tumbuh di lingkungan dimana saya percaya setiap orang dapat pergi ke luar angkasa karena saya tahu dapat mewujudkannya suatu hari ini," ujar Garriot.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

Dosen Diminta Manfaatkan Anggaran Penelitian


JAKARTA - Menyusul naiknya anggaran penelitian hingga Rp2,3 triliun pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2009, dosen diminta lebih proaktif dalam mendapatkan alokasi anggaran tersebut.

Upaya itu untuk menambah kualifikasi dan profesionalisme dosen tersebut. Direktur Lembaga Penelitian Universitas Trisakti Dadan Umar Daihani mengatakan, dosen harus mengambil kesempatan yang telah diberikan pemerintah terkait alokasi anggaran yang makin besar. Selain itu, anggaran tersebut akan memperingan beban universitas yang selama ini membiayai penelitian para dosen.

"Dosen harus memanfaatkan anggaran ini sebaik-baiknya karena komitmen pemerintah soal penelitian ini sudah semakin tinggi," katanya di Universitas Trisakti Jakarta, Rabu (8/10/2008) kemarin. Sebelumnya diberitakan, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) menyiapkan anggaran Rp2,3 triliun untuk riset.

Dana itu untuk mendukung 10.000 paket riset bagi dosen perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) serta 7.900 paket untuk peneliti di lingkungan LIPI, BPPT, juga badan penelitian dan pengembangan berbagai instansi untuk mencapai agenda riset nasional.

Meskipun pemerintah telah menganggarkan dana besar untuk riset, Dadan mengharapkan perguruan tinggi tempat dosen itu bekerja juga tetap menambah dana bagi proyek riset.

"Di Trisakti saja, pihak rektorat menyumbang 5 persen dari bujet perguruan tinggi untuk dana riset," terangnya.

Dia menuturkan, saat ini Universitas Trisakti tidak hanya melihat profesionalisme dosen pada proses penelitiannya, tetapi juga tercantumnya publikasi dan pencantuman karya atau paten.

"Kita sedang dorong dosen untuk meneliti satu riset dalam satu semester. Kalau sekarang,baru satu riset dalam satu tahun," tutur Dadan.

Sementara itu, Rektor Universitas Indonesia (UI) Gumilar Sumantri mengatakan, selain menyediakan dana paket penelitian, pemerintah juga perlu membuat sistem pendanaan. Dana penelitian sering terlambat turun ke dosen karena menunggu pencairan APBN.

"Selama ini universitas menyediakan mekanisme dana talangan agar penelitian tidak terhambat. Ke depannya, pemerintahlah yang perlu membuat sistem itu," katanya. Lalu, dia juga mengusulkan pemerintah membuat suatu kebijakan agar program riset dan pengembangan (riset and development/R&D) pada perusahaan swasta dilakukan di kampus.

Pasalnya, selama ini perusahaan menempatkan divisi R&D mereka di luar negeri dan hanya menempatkan bagian produksinya di Indonesia.

"Kalau R&D swasta di Indonesia dan bisa bekerja sama dengan perguruan tinggi, tentunya sangat menguntungkan dan bisa membantu pengembangan riset dosen," tutur Gumilar.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

NASA Dukung Obama


WASHINGTON - Pemilu Presiden Amerika Serikat tinggal hitungan hari saja. Dukungan untuk dua kandidat Presiden Amerika tersebut mengalir sama-sama kuat. Salah satu dukungan diperoleh Barrack Obama dari Administrator NASA Mike Griffin.

Kandidat dari Partai Demokrat tersebut, memperoleh kredit tersendiri dari Badan Antartiksa tersebut terkait keberhasilan Obama mengumpulkan dukungan kongres untuk membeli Pesawat Soyuz milik Rusia yang akan di gunakan untuk mengirim astronot ke Stasiun Luar Angkasa Internasional setelah tahun 2011.

"Saya sangat berterima kasih kepada Obama secara personal, atas kepemimpinanya mendukung keadaan sulit tapi penting ini. Keputusan untuk memperluas surat pelepasan tuntutan NASA ke Iran, Syria dan Korea Utara dapat mempengaruhi kongres untuk mengijinkan membeli pesawat tersebut," Ungkap Mike Griffin di suratnya yang ia tujukan ke Obama.

Menurut Griffin, keberhasilan ini dapat membuat Astronot NASA melanjutkan perjalanan ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Pasalnya Amerika berkomitmen untuk menyediakan transportasi bagi anggota kru dari Eropa, Kanada, dan Jepang, serta untuk menjamin para astronot agar dapat mendarat darurat di ISS.

"Tanpa kepemimpinan Anda (Obama), kami tidak mungkin meraih hasil yang baik," tambahnya di surat tersebut, seperti yang dikutip dari Space News, Kamis (9/10/2008).

Obama yang juga senator Illinois bersama Ketua Senat Amerika berjuang untuk menyetujui proposal yang diajukan oleh NASA tersebut. Diharapkan dukungan ini membuahkan hasil agar Komite urusan luar negeri Amerika mengesahkan proposal itu.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

3 Orang Raih Nobel Fisika


SWEDIA - Dua orang warga negara Jepang dan seorang warga Amerika berhasil memenangkan Nobel Fisika untuk teorinya yang berhasil menjelaskan mengenai perilaku partikel terkecil.

Yoichiru Nambu yang merupakan ilmuwan dari Universitas Chicago berusia 87 tahun bersama dua warga Jepang, Makoto Kobayashi dan Toshihide Maskawa, berhasil memenangkan hadiah senilai total USD1,4 juta.


Nambu mendapatkan setengah dari total hadiah karena keberhasilannya memecahkan serangkaian rumus matematika yang ia kerjakan hampir setengah abad lalu. Sedangkan sisa separuh hadiah tersebut akan dibagi dua oleh Kobayashi dan Maskawa karena keberhasilannya menemukan keluarga baru dari partikel sub-atomik.

"Ketiga ilmuwan ini pantas kami berikan nobel bidang fisika. Berkat mereka, kita jadi tahu bahwa sesungguhnya masih ada hal paling kecil yang harus kita kenali," ujar Royal Swedish Academy of Sciences, seperti dikutip melalui Associated Press, Kamis (9/10/2008).

Mereka dianggap cukup fokus dalam menjalani penelitian dengan konsep fisika yang bernama Simetri.

Dalam fisika, garis besar teori simetri diartikan sebagai situasi fisika yang sama sekali tidak bisa diubah. Dalam tingkat sub-atom, contohnya, segala sesuatunya harus berjalan sesuai dengan prosedur meskipun waktu berjalan ke masa depan atau ke belakang.

"Artinya, jika kita melihat sebuah film maka kita tidak bisa mengatakan ke arah mana film itu berjalan. Sama halnya dengan simetri. Jika peraturan tersebut dilanggar maka simetri akan terpecah dan rusak," ujar seorang ahli fisika Phil Schewe.





ENGLISH VERSION

Berlangganan Berita:



Enter your Email






Preview | Powered by FeedBlitz

[+/-] Selengkapnya...

 

Hujan Kali Ini

View blog reactions Your Site Title There are currently : visitors online. Powered by Online Count.

Senandung Kala Hujan

Free Devil ani MySpace Cursors at www.totallyfreecursors.com