Pontianak - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mendapatkan kucuran dana hingga Rp500 miliar untuk melakukan riset terkait energi terbarukan sebagai langkah awal penerapan energi pengganti BBM yang harganya terus menjulang tinggi.
"Sebenarnya kami telah menyusun roadmap mengenai kebijakan nasional IPTEK sampai tahun 2025 nanti. Sebagai rencana jangka menengah, BPPT diberikan dukungan pendanaan untuk melakukan riset. Dana yang diberikan sekira Rp100 miliar per tahun selam 5 tahun ke depan," ujar Agus Rusyana Hoetman, Asisten Deputi Urusan Perkembangan Rekayasa, Deputi Bidang Perkembangan Riptek (Riset Iptek) Badan Pengembangan dan Pengkajian Teknologi di kantornya di kawasan Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.
Menurut Agus dana yang diambil melalui APBN ini telah dikucurkan setiap tahunnya sejak 2005. Riset yang harus dijalankan oleh BPPT meliputi pengembangan biodiesel (diesel berbahan bakar nabati), biofuel, serta pencairan dan pencampuran batubara.
Selain melakukan riset, BPPT dan Ristek juga menyiapkan langkah awal untuk membentuk desa mandiri energi di beberapa wilayah di Indonesia. Desa mandiri energi ini, papar Agus, adalah penggunaan energi alam yang ada di satu wilayah untuk menghidupi wilayah tersebut. "Jika satu wilayah memiliki kapasitas cahaya matahari yang besar maka pembangkit di wilayah tersebut akan diusahakan menggunakan solar panel atau photovoltaic. Begitu seterusnya di setiap wilayah," ujar Agus.
Untuk mengembangkan desa mandiri energi tersebut Ristek dan BPPT akan melakukan program pemetaan potensi energi. Padahal program pemetaan ini sejatinya telah selesai dilakukan BPPT belum lama ini namun pemetaan tersebut hanya mencakup pemetaan energi secara global di wilayah yang luas sedangkan pemetaan terperinci yang dimaksud untuk Desa Mandiri ini adalah sumber energi di lingkup wilayah yang kecil, per kabupaten misalnya.
Saat ini, Agus menyampaikan, penggunaan minyak bumi untuk skala nasional adalah 57 persen. Hingga tahun 2025 pemerintah menargetkan untuk mengurangi penggunaan minyak bumi setidaknya menjadi 20 persen dan meningkatkan penggunaan sumber energi lain untuk menggantikannya.
Pemerintah menargetkan untuk meningkatkan penggunaan gas bumi menjadi lebih dari 30 persen, batubara lebih dari 33 persen, bahan bakar nabati (biofuel) lebih dari 5 persen, panas bumi lebih dari 5 persen, energi baru terbarukan lainnya, khususnya biomassa, nuklir, tenaga air, tenaga surya, dan tenaga angin, menjadi lebih dari 5 persen saja. Bahkan pemerintah akan meningkatkan penggunaan batubara yang dicairkan (liquefied coal) menjadi lebih dari 2 persen.
500M Untuk Riset Energi Terbarukan Selama 5 Tahun
Diposting oleh DWI PRATAMA
