F1 News

My BlogCatalog BlogRank

3Kg Jarak = 1 Lt Biodiesel



Pontianak - Sumber daya alam nabati ternyata mampu menjadi bahan bakar pengganti. Misalnya saja satu liter bioethanol yang dapat dihasilkan melalui 6,5 kilogram ubikayu atau satu liter biodiesel yang diproduksi dari 3 kilogram biji jarak.

"BPPT telah berhasil mengembangkan dan membuat infrastruktur untuk membuat bahan bakar alternatif ini. Bahkan kami pun telah membuat varietas biji jarak unggul sehingga mampu menghasilkan lebih banyak biodiesel," ujar Agus Rusyana Hoetman yang menjabat sebagai Asisten Deputi Urusan Perkembangan Rekayasa, Deputi Bidang Perkembangan Riptek (Riset Iptek) Badan Pengembangan dan Pengkajian Teknologi di kantornya di kawasan Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.

Menurut Agus, Ristek dan BPPT telah menerapkan energi alternatif ini di beberapa wilayah sesuai dengan sumber daya alam yang terkandung di dalam wilayah tersebut. Bahkan beberapa wilayah pun telah menerapkan sumber energi kombinasi. Artinya beberapa energi disatukan untuk menciptakan energi yang lebih besar dan beberapa energi lainnya difungsikan sebagai energi cadangan. 

Misalnya saja di desa Nemberala, Kabupaten Rote Ndao, Ristek bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk PLN, mengembangkan pembangkit listrik dari energi campuran berupa tenaga matahari photovoltaic, energi angin, dan biodiesel berbahan dasar jarak. Saat siang hari, aliran listrik di wilayah ini ditenagai dengan photovoltaic dan angin. Sedangkan kala malam hari angin akan berperan besar untuk membangkitkan listrik di wilayah ini dibantu dengan generator pembangkit yang ditenagai oleh biodiesel. 

Ada pula pemanfaatan energi samudera yang dikombinasikan dengan tenaga angin, air, dan photovoltaic. Energi pembangkit yang dihasilkan dari gerak gelombang samudera yang cukup kuat ini telah dikembangkan di Desa Parang Racuk, Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta.

Untuk energi alam bebas seperti energi samudera, angin dan photovoltaic memang tidak membutuhkan dana khusus untuk membeli karena sumber tersebut sudah disediakan langsung oleh alam dalam jumlah tak terbatas. Namun memang dibutuhkan biaya untuk membangun infrastrukturnya.

Berbeda dengan energi berbahan dasar nabati yang membutuhkan biaya khusus untuk membeli bahan nabati yang dibutuhkan. Sayangnya belum ada patokan harga yang ditetapkan untuk para petani jarak (biodiesel) dan ubi kayu (bioethanol) atau bahan nabati lainnya. Hal inilah yang menurut Agus cukup berperan sebagai penghambat pengembangan energi alternatif. Agus pun berharap agar pemerintah dapat membuat ketetapan harga bahan nabati yang dibutuhkan dan memberikan kewenangan kepada institusi seperti KUD untuk mengumpulkan hasil tanam tersebut untuk dijual dalam jumlah besar kepada Pertamina. 

"Pricing policy merupakan satu-satunya jalan agar pengembangan energi terbarukan tidak lagi terhambat. Kalau belum ada ketetapan harganya, siapa juga yang mau menanam biji jarak atau ubi kayu? mereka juga pasti akan berpikir dua kali untuk menentukan keuntungan Berita Terkait:
500M Untuk Riset Energi Terbarukan Selama 5 Tahun
yang didapat," ujar Agus.


Related Posts by Categories



 

Hujan Kali Ini

View blog reactions Your Site Title There are currently : visitors online. Powered by Online Count.

Senandung Kala Hujan

Free Devil ani MySpace Cursors at www.totallyfreecursors.com