Pontianak - Energi nuklir yang banyak ditakuti orang ternyata dianggap sangat menolong sebagai pembangkit listrik untuk kapasitas besar. Bahkan nuklir dianggap lebih bersih dibanding Batubara.
"Di dunia energi listrik terbagi dalam dua kepentingan. Energi listrik untuk perumahan yang hanya membutuhkan densitas rendah atau di bawah kapasitas 1000 watt. Sedangkan untuk kepentingan industri dibutuhkan energi high density atau di atas 1000 watt. Kepentingan terakhir inilah yang memungkinkan penggunaan energi nuklir," ujar Asisten Deputi Urusan Perkembangan Rekayasa, Deputi Bidang Perkembangan Riptek, Agus Rusyana Hoetman, saat ditemui Okezone di kantor Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di kawasan Thamrin Jakarta Pusat, Jumat (26/5/2008) kemarin.
Menurut Agus energi listrik untuk kepentingan industri memang bisa diterapkan dengan menggunakan beberapa sumber alam alternatif seperti gas, batubara, hidromakro, dan nuklir. Sayangnya penggunaan sebagian sumber daya tersebut hanya diperuntukkan bagi segmen industri tertentu. Misalnya sumber daya Gas yang lebih dominan untuk digunakan bagi basic industri, sedangkan sumber energi hidromakro lebih tepat untuk digunakan demi kepentingan pertanian seperti irigasi.
Dua energi lainnya, batubara dan nuklir, memiliki peran yang tepat untuk diterapkan dalam kapasitas besar. Namun potensi kendala yang ditimbulkan oleh batubara diprediksi lebih besar ketimbang nuklir. Penerapan batubara sebagai energi alternatif berkapasitas besar dapat menimbulkan kemungkinan terjadinya hujan asam di suatu wilayah.
Sedangkan energi nuklir dikenal sebagai energi yang cukup ramah lingkungan. Energi nuklir diyakini tidak akan menimbulkan emisi gas rumah kaca, tidak mencemari udara dan ketersediaan bahan bakar yang berlimpah. Namun memang tidak dipungkiri jika adanya radiasi nuklir memberikan kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat luas. Radiasi yang ditimbulkan oleh kecelakaan nuklir dipercaya dapat menimbulkan limbah radioaktif tingkat tinggi yang dapat bertahan hingga ribuan tahun.
Namun menanggapi hal ini, Agus pesimis kecelakaan tersebut akan terjadi. Ia memaparkan, kecelakaan pembangkit tenaga nuklir memang sempat terjadi pada tahun 80-an. Namun hal tersebut tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk memberikan pernyataan negatif mengenai teknologi nuklir. Menurutnya teknologi pembangkit dari nuklir telah diimplementasikan di beberapa negara dan secara relatif tidak ada kejadian kecelakaan sama sekali.
"Tinggal bagaimana menempatkannya (pembangkit nuklir) di tempat yang aman," tandas Agus.
Dilansir melalui Wikipedia, teknologi pembangkit listrik teknologi (PLT) nuklir pertama adalah stasiun pembangkit percobaan EBR-I yang berada di dekat Arco, Idaho, Amerika Serikat pada 20 Desember 1951. Sedangkan pada 27 Juni 1954, PLT Nuklir pertama dunia yang menghasilkan listrik untuk jaringan listrik (power grid) mulai beroperasi di Obninsk, Uni Soviet. Dan PLT Nuklir skala komersil pertama adalah Calder Hall di Inggris yang dibuka pada 17 Oktober 1956.
BPPT: Suatu Saat Kita Butuh PLT Nuklir
Diposting oleh DWI PRATAMA
