AMERIKA Serikat (AS) dan Inggris berencana menggunakan reaktor nuklir baru untuk membangkitkan listrik. Reaktor-reaktor baru itu dinilai lebih efisien karena mampu membakar uranium lebih lama dan menghasilkan energi lebih besar.
Namun, ilmuwan AS menilai reaktor-reaktor baru itu terlalu berbahaya karena tidak stabil. Ilmuwan yang melakukan pengujian terhadap reaktor tersebut adalah Michael Billone dari Argonne National Laboratory, AS. Billone mengungkapkan, pembakaran berskala lebih dari 45 gigawatt- days per tonne of uranium (GWd/tU) yang dilakukan reaktor tersebut melanggar standar keselamatan badan pengawas nuklir AS Nuclear Regulatory Commission (NRC).
Berdasarkan sebuah simulasi, Billone menyatakan bahwa reaktor baru itu rawan meledak apabila kekurangan air pendingin. Insiden tersebut pernah terjadi dengan reaktor-reaktor lama. Insiden terbesar terjadi pada 1979 pada reaktor nuklir Three Mile Island di Pennsylvania.
Pendukung reaktor baru itu berpendapat, tudingan Billone sangat tidak masuk akal. Electric Power Research Institute (EPRI) menyatakan, reaktor-reaktor nuklir modern tidak akan mungkin kekurangan cairan air pendingin. Namun, NRC rupanya bersikap waspada.
Karena itu, NRC melakukan penyelidikan tiga tahun untuk meneliti standar keamanan reaktor nuklir baru yang akan digunakan AS dan Inggris tersebut. Reaktor nuklir adalah infrastruktur yang sangat berbahaya. Keteledoran dalam pengoperasian reaktor nuklir bisa berakibat fatal. Keteledoran-keteledoran "kecil" namun sangat membahayakan kini rupanya masih terjadi di fasilitas-fasilitas reaktor nuklir AS.
NRC baru-baru ini menemukan, para petugas keamanan di pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Turkey Point milik Florida Power & Light Co (FPL) tertidur ketika sedang bertugas. Akibat keteledoran tersebut, NRC akan menimpakan denda USD130.000 (sekira Rp1,2 miliar) kepada FPL sebagai pengelola. NRC menilai, keteledoran itu sangat membahayakan.
Ketika para petugas keamanan sebuah PLTN tertidur, peluang penyusup untuk masuk dan melakukan sabotase meningkat. Ketika PLTN Turkey Point diledakkan, maka seluruh wilayah Miami diperkirakan akan rata dengan tanah. NRC mengungkapkan, para petugas keamanan PLTN Turkey Point sejak 2004 diketahui suka mencuri-curi kesempatan untuk tidur saat bertugas.
Aksi tidur dalam tugas itu dilakukan bergantian. Ketika sejumlah petugas tidur, petugas yang lain harus mengawasi wilayah lebih luas. Akibatnya, penjagaan terhadap PLTN tersebut menjadi tidak maksimal.
Pada 2006, NRC bahkan menemukan ada petugas tidur ketika sedang menjaga fasilitas paling vital di PLTN Turkey Point. NRC menilai, tindakan itu sama sekali tidak dapat dimaafkan. Pada Januari, NRC menimpakan denda USD208.000 (sekira Rp1,9 miliar) kepada FPL akibat pelanggaran standar keamanan yang lain.
Reaktor Baru Terlalu Berbahaya
Diposting oleh DWI PRATAMA
